Dinamika Orisinalitas Musik: Dari Romansa Sekolah Iwan Fals hingga Kegelisahan Mick Jagger

Dinamika Orisinalitas Musik: Dari Romansa Sekolah Iwan Fals hingga Kegelisahan Mick Jagger

Dunia musik selalu menyajikan dua sisi mata uang yang menarik untuk disimak: kekuatan sebuah karya orisinal yang mampu merekam zaman, dan fenomena lagu daur ulang yang sempat merajai industri hiburan global. Di tanah air, musisi legendaris Iwan Fals membuktikan bagaimana sebuah lagu ciptaan sendiri mampu menjadi kapsul waktu yang abadi, sementara di belahan dunia lain, ikon rock Mick Jagger justru pernah mempertanyakan esensi dari menyanyikan kembali karya orang lain.

Memori Kelam dan Romansa Putih Abu-abu

Salah satu bukti kekuatan narasi dalam musik Indonesia terekam jelas dalam tembang legendaris bertajuk “Buku Ini Aku Pinjam”. Lagu ini dirilis pada tahun 1988 dan menjadi bagian dari album monumental Iwan Fals yang berjudul 1910 (dibaca: sembilan belas-sepuluh). Pemilihan judul album ini bukanlah tanpa alasan; angka tersebut merupakan representasi dari tanggal 19 Oktober 1987, sebuah hari kelabu yang mencatat tragedi kecelakaan kereta api di Bintaro.

Di tengah nuansa album yang sarat akan kritik sosial dan potret realitas, “Buku Ini Aku Pinjam” hadir menawarkan oase romansa yang menyentuh hati. Liriknya yang sederhana namun puitis menceritakan kisah kasih malu-malu khas anak sekolah. Lagu ini menggambarkan adegan-adegan nostalgik, mulai dari pertemuan di kantin depan kelas, menunggu pujaan hati di halte bus usai bel sekolah berdentang, hingga senyum tersipu malu yang mewarnai hari-hari mereka.

Metafora “buku” dalam lagu ini menjadi simbol perantara perasaan, di mana sang protagonis meminjam buku hanya untuk menyelipkan sajak indah tentang mimpi-mimpi malam bagi sang kekasih. Kisah cinta sembunyi-sembunyi ini, dengan segala kepolosan menggenggam jari dan hati, menjadikan lagu tersebut tetap relevan dan tersimpan rapi di memori pendengar lintas generasi.

Tren Daur Ulang Lagu di Era 60-an

Bergeser dari orisinalitas Iwan Fals di akhir 80-an, industri musik Barat pada era 1950-an dan 1960-an justru memiliki kecenderungan yang berbeda. Meskipun sering dianggap sebagai masa keemasan musik, era tersebut diwarnai oleh kebiasaan para musisi rock dan pop untuk merekam ulang lagu-lagu yang sebelumnya telah dipopulerkan oleh artis lain. Padahal, publik sering kali beranggapan bahwa akan lebih prestisius jika seorang seniman merilis materi orisinal mereka sendiri ketimbang mendaur ulang karya lama.

Namun, realitas industri kala itu menuntut efisiensi. Banyak musisi besar, termasuk The Beatles, menyisipkan lagu cover dalam album-album awal mereka. Empat album pertama The Fab Four setidaknya memuat satu lagu daur ulang, seperti interpretasi mereka atas “Money” karya Barrett Strong atau “Please Mr. Postman” milik The Marvelettes. Strategi ini sering kali diambil untuk mempercepat proses perampungan album, karena mengandalkan materi yang sudah ada jauh lebih mudah daripada harus bersusah payah menciptakan lagu baru dari nol.

Kritik Mick Jagger Terhadap Peniruan Mentah

Fenomena ini rupanya tidak sepenuhnya disukai oleh semua pelaku seni, termasuk vokalis The Rolling Stones, Mick Jagger. Meski bandnya dikenal luas lewat beberapa lagu cover di awal karier, Jagger memiliki pandangan kritis terhadap keputusan artistik tersebut. Album debut mereka yang dirilis pada 1964, misalnya, didominasi oleh lagu-lagu blues dan soul milik Chuck Berry, Marvin Gaye, hingga Willie Dixon. Hanya satu lagu, “Tell Me (You’re Coming Back)”, yang merupakan karya asli dari duo Jagger dan Keith Richards.

Ketidakpuasan Jagger terfokus pada lagu “I’m a King Bee”. Puluhan tahun setelah perilisannya, Jagger mempertanyakan urgensi merekam ulang lagu tersebut. Ia merasa tidak ada gunanya mendengarkan The Rolling Stones membawakan lagu itu jika versi aslinya dari Slim Harpo sudah sangat mumpuni. Menurutnya, versi yang mereka buat hampir meniru mentah-mentah aransemen asli, hanya berbeda pada isian gitar slide dari Brian Jones.

Meskipun Jagger merasa skeptis akan nilai artistik dari peniruan tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa versi The Rolling Stones memiliki andil besar dalam memperkenalkan musik blues Amerika kepada audiens Inggris yang mungkin tidak mengenal Slim Harpo sebelumnya. Ini menciptakan sebuah ironi dalam sejarah musik: di satu sisi ada keinginan kuat untuk orisinalitas seperti yang ditunjukkan Iwan Fals, namun di sisi lain, proses daur ulang lagu—meski dibenci oleh penciptanya sendiri—terkadang menjadi jembatan budaya yang tak terelakkan.