Waspada Ancaman Varian Baru Virus Corona! Krisis 2021 Bisa Lebih Parah!

224
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. (Screenshot YouTube WHO)

THREECHANNEL.CO – Direktur Eksekutif Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi memprediksi Pandemi Covid-19 masih jauh dari akhir. Selain libur akhir tahun yang memicu kasus Covid-19 kembali melonjak di sejumlah negara, kini penduduk bumi juga harus berhadapan dengan varian baru Virus Corona. Karenanya, dampak multidimensi yang akan ditimbulkan pada tahun 2021 kemungkinan besar jauh lebih parah dari tahun sebelumnya.

Pada awal kemunculannya di Inggris beberapa waktu lalu, varian baru Virus Corona dengan cepat menyebar dan telah menginfeksi setidaknya 19 negara di dunia. Hal ini tidak mengherankan mengingat varian baru Virus Corona memiliki karakteristik lebih mudah menular dibandingkan SARS-CoV-2. Dengan kondisi yang masih babak belur, program vaksinasi yang belum berjalan serta kesadaran dan ketegasan penegakan protokol kesehatan yang masih setengah hati, maka tantangan ke depan akan semakin berat.

“Meskipun mutasi atau perubahan komposisi Virus Corona sudah diperhitungkan oleh para ahli, masalahnya belum tentu vaksin yang ada efektif juga terhadap varian baru Virus Corona. Inilah yang harus diwaspadai dan diantisipasi sedini mungkin, apalagi penularannya lebih cepat dari sebelumnya. Artinya apa? Ancaman dan tantangan ke depan akan semakin berat. Bahkan kalau lengah, krisis multidimensi yang jauh lebih parah sudah ada di depan mata,” ujar R Haidar Alwi kepada Threechannel, Selasa (29/12/2020) malam.

“Belum lagi kalau negara-negara lain lockdown sementara kita ketergantungan impor. Terus solusinya apa? Mau tidak mau harus mandiri, barang-barang yang biasanya impor harus bisa kita produksi sendiri termasuk vaksin, kreatif dan inovatif menciptakan lapangan kerja baru, dorong UMKM dan digitalisasi produk. Sumberdaya yang ada harus bisa kita maksimalkan. Tentunya masyarakat juga harus mematuhi protokol kesehatan, Pemerintah merumuskan kebijakan yang tepat dan tegas dalam menegakkan aturan,” tutur R Haidar Alwi melanjutkan.

Ia berharap agar Pemerintah mengambil pelajaran dari situasi dan kondisi yang telah dilalui sepanjang tahun 2020. Kebijakan pembukaan fasilitas umum yang dapat menimbulkan kerumunan sebaiknya dipertimbangkan kembali dan tidak dirumuskan dengan tergesa-gesa. Terlebih, libur akhir tahun memicu tingginya mobilitas masyarakat menuju kawasan wisata sehingga rentan penularan Covid-19. Fakta di lapangan tak bisa dipungkiri bahwa kesadaran dan ketegasan penegakan protokol kesehatan masih lemah bahkan tak jarang hanya formalitas belaka. (ham)