Miris..! Cerita Pelajar Miskin di Jakbar Pinjem HP untuk Belajar Online

127
Ari Nopradika Pelajar SLTP di Jakbar yang tak punya HP tengah menunjukan bantuan Covid-19 dari pemerintah/istimewa

THREECHANNEL.CO – Nasib siswa dengan ekonomi orang tua yang pas-pasan memang sangat miris. Dimana, sejumlah siswa lain yang orang tuanya mampu dapat belajar dengan riang gembira, seolah – olah tidak punya beban.

Namun kondisi berbeda dialami oleh Ari Nopradika 15 tahunsalah satu pelajar SMP di Kawasan Sumur Bor Kec.Kalideres, Kota, Jakarta Barat.

Disaat pemerintah menerapkan sistem aturan belajar di rumah atau sistem online. Dia terpaksa harus menunggu orang tuanya pulang bekerja sebagai supir taksi.

“Yah mau gimana lagi. Kondisi ekonomi bapak aja pas-pasan. Cuma buat bayar kontrakan sama buat makan. Apalagi sekarangkan harus belajar di rumah menggunakan HP. Terpaksa kalau mau belajar dan kerjakan tugas sekolah. Nunggu bapak pulang,” ucap Ari kepada wartawan, Senin malam(28/12/2020).

Ari menuturkan dengan kondisi ekonomi orang tua yang cukup hanya untuk makan dan sewa rumah. Ia tidak tega menuntut banyak agar dibelikan HP.

“Lihat bapak aja sudah kerjakeras banting tulang saya kasihan. Tidak tega rasanya, kalau harus maksa bapak untuk pinjam duit buat beli hp. Mending saya tunggu bapak pulang kerja agar bisa meminjam hp bapak buat belajar,” pungkasnya.

Memang pasca dilanda pandemi Covid-19. Sejumlah negara termasuk Indonesia, telah melakukan berbagai upaya untuk menekan penyebaran virus Corona (Covid-19).

Salah satu langkah yang dinilai cukup efektif ialah dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar(PSBB).

Aturan tersebut, di antaranya membatasi sejumlah aktivitas di luar rumah. Hal ini juga berlaku untuk kegiatan belajar mengajar yang akhirnya menutup sekolah untuk sementara waktu. Kebijakan ini dilakukan sejak wabah tersebut meluas ke berbagai daerah di Indonesia.

Dilain sisi, Tamran selaku orang tua Ari mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk membelikan HP buat anaknya.

Pria yang berprofesi sebagai supir taksi dan bermukim di lingkungan RT 04 RW 05 Kampung Duri Kosambi, Cengkareng hanya bisa pasrah dengan kondisi ekonomi ditengah pandemi Covid-19.

Bahkan, dalam mensiasati agar putranya itu dapat mengerjakan tugas sekolah selama sistem online diberlakukan. Terkadang dirinya harus berbagi waktu menemani putranya belajar.

“Memang setelah dilanda Corona dan pemerintah menerapkan belajar jarak jauh (belajar online dirumah). Saya sedih kadang melihat anak mau belajar pakai Hp harus bergantian,” cerita Tamran.

Tamran mengatakan, peraturan PSBB ketat (lockdown) awal dilanda Covid -19 dirasakan cukup mengejutkan dan membuat pendapatan dirinya sebagai supir taksi merosot tajam.

“Saat itu kan ada aturan PSBB. Dimana segala aktivitas baik perkantoran dan usaha di suruh Lockdown. Tentu, sebagai supir taksi, pendapatan saya merosot tajam,” tandasnya.

“Karena kan harus memikirkan kebutuhan hidup sehari-hari, seperti bayar sewa rumah, makan, setoran mobil taksi,” sambungnya.

Tamran mengungkapkan, kendati dengan ekonomi yang pas-pasan. Ia selalu memberikan semangat kepada putranya tersebut, supaya tidak berputus asa.

“Saya sampaikan ke dia (Ari). Sabar ya nak, kalau bapak ada rezeki lebih, nanti bapak belikan hp baru buat belajar. Sementara pakai Hp bapak dulu ya,” ungkapnya.

Terkadang kata Tamran, untuk menghibur anaknya agar tidak suntuk, dirinya kerap mengajak putranya ke Terminal Kalideres. Sebab, terminal tersebut merupakan tempat sehari-hari dirinya mangkal dalam mencari sewa.

“Selama belajar online itu kan di rumah. Makanya biar tidak jenuh, saya suka ajak anak ke pangkalan. Begitu dapat penumpang, dia suruh tunggu di warung,” tukasnya.

Tamran pun bersyukur, ditengah pandemi Corona masih mendapat bantuan berupa 1 karung beras ukuran kecil, 3 kotak sarden kecil serta sebungkus minyak goreng.

Dan ia berharap, kondisi pandemi Covid-19 dapat segera berakhir. Dan tidak ada lagi PSBB atau pun belajar dengan sistem online. Sehingga, dapat normal sediakala.(CR)