Gokil! Meski Buatan China, Vaksin Sinovac Ternyata Punya Banyak Keunggulan

170
Ilustrasi Vaksin Sinovac buatan China. (AP via Nikkei Asia)

THREECHANNEL.CO – Direktur Eksekutif Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi menilai sejumlah keunggulan yang dimiliki Vaksin Sinovac buatan China memungkinkannya dapat diakses oleh seluruh negara di dunia, terutama negara miskin dan berkembang. Apalagi, efektivitas Vaksin Sinovac rata-rata berada di atas syarat minimal 50% yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia, WHO.

Menurutnya, perbedaan efektivitas vaksin berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan sejumlah lembaga dan negara adalah suatu hal yang biasa. Sebab, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi hasil uji seperti ras dan karakteristik individu. Hingga saat ini, belum ada satu pun Vaksin Covid-19 terbaik yang mampu mengakomodir semua perbedaan ras dan karakteristik individu populasi.

“Vaksin Sinovac buatan China ini memiliki sederet keunggulan. Selain harganya terjangkau, efektivitasnya di atas standar 50% yang ditetapkan WHO. Untuk pendistribusian dan penyimpanannya juga tidak memerlukan suhu super dingin seperti Pfizer-Biontech minus 70 Derajat Celcius dan Moderna minus 20 Derajat Celcius yang mudah rusak dalam suhu ruangan. Oleh karena itu, sangat cocok digunakan oleh negara beriklim tropis seperti Indonesia dan penduduknya tersebar di ribuan pulau. Tidak butuh alat khusus yang memakan biaya besar, cukup disimpan dalam freezer atau kulkas pada suhu 2-8 Derajat Celcius. Makanya aku menyebut Sinovac sebagai Vaksin Untuk Semua,” ujar R Haidar Alwi kepada Threechannel, Senin (28/12/2020) malam.

Seperti yang dilaporkan Nikkei Asia pada awal Desember lalu bahwa sebagian besar negara-negara yang memesan Vaksin Pfizer-Biontech dan Moderna sedang kesulitan distribusi lantaran memerlukan kotak penyimpanan khusus dengan suhu super dingin setidaknya dalam waktu 10 hari. Tantangan berat dihadapi India yang harus menyalurkan Vaksin kepada 1,35 Miliar penduduknya yang tersebar di pelosok desa di tengah cuaca terik dan sulit dijangkau infrastruktur rantai dingin. Perusahaan di sana pun tidak ada yang mampu mengangkut vaksin bila harus mempertahankan suhu super dingin di atas 25 Derajat Celcius.

“Melihat keunggulan yang dimilikinya, masuk akal kenapa Pemerintah memilih mendatangkan Vaksin Sinovac pada tahap pertama ini. Bayangkan kalau yang dipesan itu Pfizer-Biontech atau Moderna, mungkin Vaksinasi Covid-19 akan lebih lama lagi, bukan Januari 2021 karena harus mempersiapkan alat khusus yang mampu mempertahankan suhu super dingin minus 70 Derajat Celcius. Belum lagi vaksinnya mudah rusak sehingga vaksinator dan distributor harus diberi pelatihan khusus pula. Jadi menurutku, Indonesia cukup beruntung memesan Vaksin Sinovac buatan China,” kata R Haidar Alwi.

Ia pun mengajak masyarakat khususnya para tokoh berpengaruh untuk sama-sama menyukseskan program vaksinasi Covid-19 secara bertahap yang rencananya akan dimulai pada Januari 2021 mendatang. Segala bentuk penyebaran informasi menyesatkan apalagi bernada provokasi penolakan harus segera dihentikan. Sebab, tindakan tersebut akan menggerus kepercayaan publik terhadap Pemerintah sehingga dapat mengganggu kelancaran dan kesuksesan program Vaksinasi Covid-19.

R Haidar Alwi menyesalkan banyak pihak yang sengaja mencari-cari kesalahan Pemerintah demi ambisi dan dendam politik semata. Semakin Pemerintah berjuang keras mendatangkan Vaksin Covid-19 di tengah persaingan ketat dengan negara lain, semakin kuat pula narasi provokasi yang disebar para buzzer, influencer, tokoh masyarakat dan tak terkecuali politikus. Mulai dari keraguan atas kemanjuran Vaksin Covid-19 karena buatan China hingga tuntutan pengadaan dalam jumlah besar secara sekaligus.

“Jangan disamakan dengan pengadaan dan distribusi bansos, tidak semudah itu tapi jauh lebih rumit. Selain persaingan ketat dengan negara lain, juga harus melewati serangkaian proses uji terlebih dahulu untuk memastikan mutu, keamanan dan kemanjuran vaksin. Dulu merengek-rengek minta vaksin, pas sudah ada bukannya didukung tapi malah dicari-cari kesalahannya. Apakah kita sebiadab itu menyikapi upaya Pemerintah demi kesehatan dan keselamatan kita sendiri? Kalau tidak bisa berpartisipasi membantu kesuksesan program Vaksinasi Covid-19, minimal jangan menjadi batu sandungan,” pungkas R Haidar Alwi. (ham)