Dibalik Cerita Pelajar Miskin, GMBI: Potret Buram Dunia Pendidikan di Jakbar

207
Ketua Distrik GMBI Jakarta Barat, Daenk Muhtar Muchlis

THREECHANNEL.CO -Ketua DPD LSM gerakan masyarakat bawah Indonesia (GMBI) Jakarta Barat, Muhtar Muchlis merasa prihatin mendengar masih ada pelajar yang pinjem hp untuk belajar online diwilayah Duri Kosambi.

“Ingin menagis melihat adik adik kita yang masih kesulitan belajar di masa pandemik ini,” tutur Muhtar kepada threechannel.co, Selasa(29/12/2020).

Pria yang akrab disapa Daenk Muhtar ini menyindir, padahal pemerintah sudah melakukan upaya-upaya agar tidak ada lagi keluhan-keluhan mengenai kebijakan aturan sistem pembelajaran online selama pandemi Covid-19.

Namun, kenyataannya masih saja ada keluhan pelajar dari keluarga ekonomi kebawa.

“Saya peribadi mengapresiasi langkah langkah dan upaya pemerintah untuk memberikan perhatian kepada para pelajar. Namun melihat kenyataannya masih ada keluhan atau pun cerita pelajar yang tak punya hp,” sindirnya.

Baca juga: Miris..! Cerita Pelajar Miskin di Jakbar Pinjem HP untuk Belajar Online

Secara khusus Muhtar menilai, penerapan kebijakan belajar online yang menimbulkan keluhan bagi para pelajar sebagai generasi penerus bangsa. Merupakan potret buram bagi dunia pendidikan, khususnya di Jakarta Barat.

“Sekarang gini kita berbicara konteks pendidikan, dimana adik-adik pelajar inikan sebagai penerus bangsa. Setidaknya, jangan membebankan pikiran mereka. Otomatiskan adik-adik pelajar ini minta dibelikan HP. Kalau orang tuanya mampu. Coba kalau tidak mampu. Saya khawatir malah menimbulkan aksi kriminalitas, karena tuntutan kebijakan,” pungkasnya.

“Okelah kebijakan itu sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran Corona. Tapi dibalik itu, pemerintah jugakan harusnya mengkaji lebih dalam, apa dampaknya dan apa solusinya. Sehingga kebijakan itu dapat dirasakan dan dinikmati, bukan menimbulkan keluhan bagi peserta didik.”sambungnya.

Muhtar menyarankan, kedepan pemerintah harus memikirkan matang-matang serta melakukan pendataan yang valid, jika ingin mengeluarkan kebijakan. Sehingga, ada solusi terbaik bagi masyarakat yang menjalankannya.

“Saya berharap pemerintah perlu berfikir lebih keras lagi untuk mencari solusi terhadap fakta yang ada,” saran dia.

Sebelumnya diberitakan, Ari Nopradika salah satu pelajar SLTP kelas VIII di Jakarta Barat menceritakan, dalam belajar online di rumah, terpaksa harus menunggu kedatangan bapaknya usai mengemudi taksi.

Sebab, dirinya tidak memiliki HP untuk mengerjakan tugas-tugas online yang diberikan oleh sekolah. Sementara, Ari sadar betul penghasilan bapaknya dari mengemudi taksi tidak akan cukup untuk membeli HP baru.

Dia baru dapat mengerjakan tugas sekolah dengan meminjam HP milik bapaknya seusai pulang kerja dari mengemudi taksi.(Nar)