Eks Komisaris BUMN “Ngamen” Demi Hidup Glamor Sang Istri, KPK Diminta Turun Tangan

716
Ketua KPK, Firli Bahuri. (Kumparan)

THREECHANNEL.CO – Seorang mantan Komisaris BUMN Pelabuhan berinisial AP diduga “menjual” para penyandang tunanetra untuk memperkaya diri dan keluarganya dengan modus atas nama yayasan. Konon, hal itu dilakukan yang bersangkutan demi memenuhi tuntutan hidup glamor sang istri, DR alias DA yang suka berfoya-foya melalui sejumlah komunitas sosialita. Demikian informasi yang diperoleh Threechannel dari salah satu korban yang juga pernah satu komunitas dengan istri bekas pejabat tersebut.

Mulanya, saat terduga pelaku masih menjabat sebagai Komisaris BUMN Pelabuhan, AP memfasilitasi seorang Warga Negara Arab berinisial Syekh AJ yang berkeinginan menjadi Warga Negara Indonesia. Langkah awalnya yakni dengan mendirikan yayasan sebagai “ladang uang” sembari mendongkrak popularitas WNA tersebut agar menjadi Penceramah terkenal. Dengan memanfaatkan jaringan AP sebagai Pejabat BUMN, Syekh AJ bersafari keliling Nusantara hingga akhirnya dikenal publik secara luas dan mendapatkan kewarganegaraan Indonesia pada tahun 2019.

“Yayasan tunanetra. Pengurusnya AP dan Syekh AJ. Setelah Syekh AJ terkenal dan AP udah nggak jadi Komisaris PELINDO sejak 2015, AP sendiri mendirikan yayasan baru. Ngamen ke pejabat-pejabat daerah hingga pejabat negara sambil bawa proposal. Dibantuin istrinya juga, DR alias DA. Modusnya penyediaan Kitab Braille bagi penyandang tunanetra. Saya waktu itu nyumbang sekian belas jutalah, nggak banyak. Yang banyak OSO, sampai 5 Milliar. Belum termasuk pejabat lain, teman-teman komunitas, banyak, ada beberapa komunitas,” ujar narasumber yang namanya sengaja dirahasiakan demi keamanan yang bersangkutan, Jumat (13/11/2020).

Dari awal, narasumber mengaku sebenarnya sudah menaruh rasa curiga lantaran jumlah donasi yang ditentukan minimal Rp 3 Juta. Padahal, harga satu Kitab Braille hanya berkisar antara Rp 1,5 Juta sampai Rp 2 Juta. Pun demikian menyangkut transparansi, angka-angka yang tercantum dalam laporan pertanggungjawaban dinilai tidak masuk akal karena dibuat jauh lebih kecil dari dugaan dana yang masuk.

“Mungkin karena dikira dana gratis jadi tidak perlu pertangungjawaban yang akuntabel. Boro-boro diaudit akuntan publik, orang awam seperti saya aja tahu kok mana angka yang masuk akal dengan yang tidak,” imbuh narasumber.

Ia semakin curiga setelah AP tidak lagi menjabat Komisaris BUMN namun istrinya, DR alias DA tetap hidup glamor bahkan terkesan berfoya-foya. Terlepas benar atau tidaknya mertua DR alias DA adalah seorang bekas Duta Besar yang berdomisili di Jatinegara, Jakarta Timur. Oleh karena itu, ia meminta aparat penegak hukum agar segera turun tangan melakukan penyelidikan. Jika ditemukan bukti-bukti, ia berharap kasus tersebut dapat diungkap secara tuntas.

“Pokoknya glamor banget deh, foya-foya. Dan nggak jarang DR alias DA ini menawarkan fasilitas macam-macam ke teman-teman komunitas. Katanya suaminya, AP dapat istilahnya “jatah preman” lah dari pejabat daerah sana. Walaupun AP kabarnya anak duta besar dan punya travel umroh, tapi saya curiga aja. Mudah-mudahan KPK atau aparat penegak hukum dapat menyelidiki dugaan saya ini. Kalau ada bukti, usut sampai tuntas. Kan banyak tuh yang gunain yayasan buat nyari duit, memperkaya diri. Dapatnya berapa, yang disalurkan tak seberapa, sisanya besar masuk kantong pribadi,” tutur narasumber. (SNR)