Relawan Berebut Jabatan, HAI: Jika Tak Bisa Meringankan, Jangan Perberat Beban Jokowi

272
Presiden Joko Widodo bergegas usai menyampaikan keterangan kepada wartawan di beranda belakang Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/3/2020). Presiden menyatakan telah memerintahkan para menteri untukmengingatkan para pejabat publik dan pihak rumah sakit agar tidak membuka data pasien positif corona serta mengajak masyarakat untuk tidak panik namun tetap waspada dan beraktivitas seperti biasa. ANTARA FOTO

THREECHANNEL.CO – Di saat Pemerintah berupaya kuat menyelamatkan bangsa dan negara dari ancaman disintegrasi yang diperparah Pandemi dan resesi ekonomi, ujian lainnya yang tak kalah berat juga datang menghampiri. Para relawan dan pendukung Jokowi yang diharapkan ikut membantu meredam situasi malah terjebak perselisihan dan perpecahan. Apalagi kalau bukan saling berebut jabatan dan kekuasaan serta goreng-menggoreng isu recehan yang pada akhirnya menimbulkan ketegangan.

“Aku sedih dan prihatin sekaligus malu menyaksikan kawan-kawan relawan rebutan jabatan Direksi dan Komisaris BUMN. Mereka mengklaim cinta dan setia pada Pak Jokowi tapi malah pamrih bahkan memperberat beban beliau. Padahal saat ini Pak Jokowi, bangsa dan negara membutuhkan kita semua. Hantaman dari luar sudah berat, jangan sampai dirong-rong juga dari dalam. Sudahlah, mari akhiri, jangan berebut jabatan lagi. Dinginkan kepala dan lapangkan dada. Beri contoh yang baik bagi akar rumput,” ujar Direktur Eksekutif Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi saat dihubungi Threechannel, Jumat (30/10/2020) Malam.

Sebagaimana diketahui, Handoko selaku Sekjen Projo menuntut Menteri BUMN Erick Thohir menempatkan lebih banyak relawan Jokowi di kursi Direksi dan Komisaris BUMN. Menurutnya, Erick Thohir cenderung berpikir bahwa relawan Jokowi tak kompeten dan tidak layak menduduki jabatan tersebut. Padahal banyak di antaranya yang memiliki kompetensi memadai dan setia sejak Jokowi bermigrasi dari Solo ke Jakarta, sehingga dapat membantu mewujudkan tata kelola BUMN yang sehat. Jika Erick Thohir meragukan itu semua, Handoko menyarankannya untuk berkonsultasi langsung dengan Presiden Jokowi.

“Padahal Erick Thohir baru saja memberikan 3 kursi Komisaris kepada unsur relawan Pak Jokowi. Belum termasuk yang sudah terlebih dahulu di angkat. Jadi, kalau kawan-kawan maunya semua dapat jatah, itu tidak mungkin. Bisa jadi belum rejeki atau belum saatnya. Jika kebagian, ya disyukuri. Bila belum, mohon berbesar hati. Berbuat untuk bangsa dan negara itu tidak harus dengan menjadi Komisaris atau Direksi BUMN. Jadi kenapa harus ngotot? Yang pecah kita, yang rugi kita, kasihan kan Pak Jokowi,” tutur R Haidar Alwi.

Permintaan lebih banyak jabatan bagi relawan Jokowi yang diungkapkan oleh Handoko selaku Sekjen Projo terjadi setelah yang bersangkutan melakukan pertemuan dengan Adian Napitupulu dan kawan-kawan melalui rapat kecil bertajuk konsolidasi. Adian Napitupulu dan Mustar Bonaventura yang sejak lama tak dihiraukan Erick Thohir soal bagi-bagi jabatan mencoba menggalang dukungan dari sejumlah pentolan organ relawan Jokowi.

Maka dibuatlah sebuah pertemuan yang digelar di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, pada Sabtu (24/10/2020). Pertemuan tersebut dihadiri oleh Adian Napitupulu, Mustar Bonaventura, Handoko, Sihol Manullang, Yayong Waryono, Reinhard Parapat alias Taki dan Aidil Fitri. Dokumentasi berupa foto diunggah ke akun Facebook-nya masing-masing oleh Aidil Fitri dan Mustar Bonaventura sehari setelah pertemuan berlangsung.

Adian Napitupulu merupakan Politikus PDIP yang menjabat sebagai Anggota Komisi I DPR RI, Sekjen Nasional PENA 98 dan Ketua Dewan Pembina POSPERA. Sedangkan Mustar Bonaventura adalah Ketua Umum POSPERA atau Posko Perjuangan Rakyat. Sementara Sihol Manullang mantan Ketua Umum organ relawan Bara JP yang pernah divonis 4 tahun penjara atas kasus korupsi pengadaan kotak suara dengan kerugian negara sebesar Rp 15,7 Miliar. Rekannya, Yayong Waryono menjabat sebagai Sekjen Bara JP. Selain itu, ada pula Reinhard Parapat alias Taki yang merupakan Ketua Umum organ DPN KIB (Kebangkitan Indonesia Baru) dan Aidil Fitri Ketua Umum Foreder.

Tuntutan Handoko kemudian dilanjutkan oleh Adian Napitupulu. Berlandaskan pada pernyataan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto tentang adanya Menteri yang berambisi menjadi Presiden, Adian Napitupulu lantas mengarahkan hulu ledak kepada Menteri BUMN Erick Thohir. Dengan membeberkan sejumlah alasan, Adian Napitupulu mengatakan bahwa ambisi tak terkendali dari lingkaran istana bisa lebih berbahaya dari demonstrasi di luar gerbang istana.

Seolah muncul sebagai pahlawan yang membela Erick Thohir, Koordinator Nasional Poros Benhil yang bernama Aznil Tan kemudian melancarkan serangan balasan kepada Adian Napitupulu. Aznil Tan yang mengatasnamakan Barikade 98 menuding Adian Napitupulu sebagai sosok Pembenci Erick Thohir, memonopoli kebenaran demi ambisi pribadi hingga menggerogoti Presiden Jokowi.

Aznil Tan mulanya merupakan loyalis Kepala Staf Presiden, Moeldoko, di bawah organ Poros Benhil. Akan tetapi lantaran disebut-sebut tak kebagian kursi di KSP, Aznil Tan berbalik menghujani Moeldoko dengan kritik tajam. Hantaman tersebut berlangsung selama beberapa waktu hingga akhirnya Aznil Tan masuk gerbong Benny Rhamdani yang diangkat menjadi Kepala BP2MI. Lalu, Ketua Umum Jokowi Mania (JOMAN), Immanuel Ebenezer alias Noel yang saat ini menjabat Komisaris Independen Holding BUMN Pupuk Indonesia, datang menemui Benny Rhamdani. Mereka sepakat mendirikan sebuah organisasi bernama Barikade 98. Meskipun sesama aktivis 98, Adian Napitupulu dan Noel dikenal terjebak rivalitas sejak lama.

Seolah disetir seorang “bandar” yang sama, Immanuel Ebenezer dan Komisaris Independen Perusahaan Perdagangan Indonesia, Kapitra Ampera kompak melontarkan tuduhan adanya Menteri di Kabinet Indonesia Maju yang sibuk berbisnis dan masih terobsesi menjadi Presiden, sehingga layak dicopot dari jabatannya. Tudingan keduanya muncul tidak lama setelah Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto melontarkan pertanyaan serupa.

Dalam tayangan Sapa Indonesia Malam yang disiarkan Kompas TV pada Selasa (27/10/2020), Immanuel Ebenezer menyindir seorang Menteri di Kabinet Indonesia Maju yang sibuk berbisnis dan mencari pamor untuk Pilpres 2024, sehingga pantas dicopot atau di-reshuffle. Menteri yang dimaksud namanya berawalan ‘Pra’ dan berakhir dengan huruf ‘O’. Meski tak menyebut secara gamblang, namun publik berasumsi bahwa yang disindir itu ialah Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

Sebelumnya, ketika menjadi narasumber di Kabar Petang tvOne pada Minggu (25/10/2020), Kapitra Ampera juga melontarkan pernyataan yang senada. Menurutnya, para Menteri harus bertanggungjawab pada bidangnya masing-masing dan ketika lari dari amanah tersebut maka wajib di-reshuffle. Termasuk Menteri yang masih terobsesi menjadi Presiden sehingga tidak fokus menjalankan tugasnya.

“Terlepas dari benar atau tidaknya, meski sudah melewati verifikasi berlapis-lapis, aku rasa pernyataan Hasto tak layak digoreng dengan asumsi maupun persepsi liar yang hanya akan menimbulkan kegaduhan. Daripada sibuk goreng-menggoreng, lebih baik kawan-kawan fokus pada tugas dan tanggungjawabnya masing-masing. Noel dan Pitra bisa fokus awasi BUMN masing-masing, Adian fokus di DPR dan Aznil fokus bantu Benny di BP2MI. Walau berbeda bendera organ, kita adalah satu, sama-sama pendukung Pak Jokowi. Jika tak bisa meringankan beban beliau, minimal jangan memperberatnya dengan kegaduhan,” pungkas R Haidar Alwi. (ham)