Kolase video viral warga Swedia bebas beraktivitas tanpa protokol kesehatan. (Ist)

THREECHANNEL.CO – Direktur Eksekutif Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi mengingatkan masyarakat untuk tidak terprovokasi oleh video viral terkait betapa santainya Swedia dalam menghadapi Pandemi Covid-19. Menurutnya, video tersebut sengaja disebarkan sebagai alat propaganda yang sangat berbahaya sehingga dapat memengaruhi masyarakat untuk mengabaikan protokol kesehatan dan bahkan melawan Pemerintah.

Sejak awal, Swedia termasuk salah satu negara yang paling santai dalam menghadapi Pandemi Covid-19. Tidak ada kebijakan lockdown, kewajiban memakai masker, beraktivitas di rumah dan keharusan menutup fasilitas umum. Meskipun sempat diklaim berhasi, tapi hanya sementara. Dalam jangka panjang, data membuktikan bahwa dari sisi kesehatan maupun ekonomi, Swedia ternyata tidak lebih baik. Kasus Covid-19 tetap bergejolak dan pertumbuhan ekonominya juga berkontraksi cukup dalam.

“Jadi, video viral itu adalah alat propaganda. Ini sangat berbahaya karena dapat memengaruhi masyarakat untuk mengabaikan protokol kesehatan hingga melawan pemerintah. Kondisi Swedia tidak sesantai seperti dalam video. Makanya penting kita luruskan dan ingatkan supaya masyarakat tidak terprovokasi,” ujar R Haidar Alwi kepada Threechannel, Sabtu (3/10/2020).

Pembuat video mengklaim bahwa angka Covid-19 di Swedia sangat rendah, hanya terdapat 2-3 penambahan kasus harian pada September-Oktober, sehingga warganya bebas beraktivitas tanpa masker dan tidak dilarang berkerumun. Lalu, apakah klaim tersebut benar?

“Klaim demikian itu salah, meleset jauh dari data dan realita. Reuters melaporkan adanya penambahan kasus baru Covid-19 sebanyak 752 kasus per 1 Oktober, tertinggi sejak 30 Juni lalu yang mana terdapat lebih dari 800 penambahan kasus baru,” tutur R Haidar Alwi meluruskan informasi sesat video viral.

Worldometers mencatat, hingga Sabtu (3/10/2020), jumlah kasus Covid-19 di Swedia mencapai 94.283 kasus, yang mana sebanyak 5.895 di antaranya meninggal dunia. Dengan populasi sekitar 10.115.386 orang, tingkat infeksi di Swedia adalah 0,93%. Jumlah kasus per 1 (satu) Juta penduduk yakni 9.321 kasus dan jumlah kematian per 1 (satu) juta penduduk berada pada angka 583 kasus.

Sedangkan di Indonesia, jumlah kasus Covid-19 mencapai 295.499 kasus, yang mana sebanyak 10.972 di antaranya meninggal dunia. Dengan populasi sekitar 274.258.537 orang, tingkat infeksi di Indonesia adalah 0,10%. Jumlah kasus per 1 (satu) Juta penduduk yakni 1.077 kasus dan jumlah kematian per 1 (satu) Juta penduduk berada pada angka 40 kasus.

“Dari jumlah kasus dan jumlah kematian memang Indonesia lebih tinggi dari Swedia. Tapi dari sisi tingkat infeksi terhadap populasi dan jumlah kasus per satu juta penduduk, Indonesia hampir 9 kali lebih rendah dibandingkan Swedia. Sementara tingkat kematian per satu juta penduduk, Indonesia jauh lebih baik lagi, yakni hampir 15 kali lebih rendah dari Swedia,” papar R Haidar Alwi

Dari sisi ekonomi, pertumbuhan ekonomi Swedia pada Kuartal I 2020 masih positif pada angka 0,1%. Sedangkan pada Kuartal II 2020, menurun drastis hingga menyentuh level minus yakni -8,6%. Badan Statistik di Swedia menyatakan penurunan ini adalah yang terparah setidaknya dalam kurun waktu 40 tahun terakhir.

Bagaimana dengan Indonesia? Badan Pusat Statistik mencatat Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal I 2020 masih positif pada angka 2,97%. Sedangkan pada Kuartal II 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia menyentuh level minus yakni -5,32%.

“Artinya apa? Tidak hanya dari sisi kesehatan, dari segi ekonomi pun Indonesia ternyata jauh lebih baik dari Swedia. Padahal, selama Pandemi Covid-19, Indonesia menerapkan PSBB dan aktivitas bisnis dibatasi. Sementara di Swedia bisnis mereka tetap beroperasi dalam skala besar. Jadi kesimpulannya, baik dari segi kesehatan maupun ekonomi, Indonesia masih lebih baik dari Swedia. Kondisi Swedia tidak sesantai video propaganda yang viral di medsos itu,” pungkas R Haidar Alwi.

Sebagai informasi, sebuah video dengan durasi yang beragam beredar luas dan viral di media sosial. Video tersebut menggambarkan warga Swedia yang bebas beraktivitas tanpa protokol kesehatan. Satu di antaranya diunggah oleh akun Facebook Seword.com dan akun Instagram @sewordofficial_ pada Sabtu (3/10//2020) dini hari. Seword yang selama ini dikenal sebagai media opini pendukung Pemerintahan Jokowi, kali ini terkesan berbeda.

“Tanpa propaganda media, virus ini hanya jadi flu biasa yang mudah sekali disembuhkan.”

“Tapi di negara yang aparatnya kejar setoran, politisinya bermain anggaran, virus ini dibuat menakutkan. Aktifitas warga dibatasi, diwajibkan pakai masker, agar terus menerus ketakutan. Kalau bisa sampai kiamat terus begini, supaya anggaran terus cair dengan alasan penanggulangan pandemi.”

“Vaksin dijadikan satu-satunya jalan keluar, agar dana puluhan triliun bisa dikorupsi secara legal. Jangan heran kalau yang ceriwis soal vaksin adalah pebisnis tak paham medis.

“Kami percaya virus ini ada. Tapi tak semenakutkan klaim para pakar propaganda.”

“Kami pro terhadap vaksin, tapi kami logis, tak semua penyakit ada vaksinnya. Lagipula, untuk apa memvaksin sebuah penyakit yang mayoritas penderitanya tidak bergejala? MERDEKA!”

View this post on Instagram

Tanpa propaganda media, virus ini hanya jadi flu biasa yang mudah sekali disembuhkan. Tapi di negara yang aparatnya kejar setoran, politisinya bermain anggaran, virus ini dibuat menakutkan. Aktifitas warga dibatasi, diwajibkan pakai masker, agar terus menerus ketakutan. Kalau bisa sampai kiamat terus begini, supaya anggaran terus cair dengan alasan penanggulangan pandemi. Vaksin dijadikan satu-satunya jalan keluar, agar dana puluhan triliun bisa dikorupsi secara legal. Jangan heran kalau yang ceriwis soal vaksin adalah pebisnis tak paham medis. Kami percaya virus ini ada. Tapi tak semenakutkan klaim para pakar propaganda. Kami pro terhadap vaksin, tapi kami logis, tak semua penyakit ada vaksinnya. Lagipula, untuk apa memvaksin sebuah penyakit yang mayoritas penderitanya tidak bergejala? MERDEKA!

A post shared by Seword.com (@sewordofficial_) on

(ham)