Bukannya Urus BUMN, Kapitra & Noel Malah Kompak Goreng Isu

759
Berturut-turut ke-2 dan ke-3 dari kiri: Kapitra Ampera dan Immanuel Ebenezer. (Screenshot YouTube Dr M Kapitra Ampera SH MH)

THREECHANNEL.CO – Alih-alih melakukan pengawasan terhadap BUMN sebagaimana layaknya tugas Komisaris, Kapitra Ampera dan Immanuel Ebenezer malah sibuk “menabuh gendang” isu politik. Seolah disetir seorang “bandar” yang sama, keduanya kompak melontarkan tuduhan adanya Menteri di Kabinet Indonesia Maju yang sibuk berbisnis dan masih terobsesi menjadi Presiden, sehingga layak dicopot dari jabatannya.

Kapitra Ampera merupakan politikus PDIP yang diangkat menjadi Komisaris Independen Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) sejak tanggal 2 April 2020. Sedangkan Immanuel Ebenezer adalah Ketua Umum Relawan Jokowi Mania (JOMAN) yang ditunjuk sebagai Komisaris Independen Pupuk Indonesia mulai 4 Agustus 2020.

Bukannya fokus melakukan tugasnya dalam mengawasi Direksi & pengurusan BUMN sebagaimana yang diamanatkan peraturan perundang-undangan, Kapitra Ampera dan Immanuel Ebenezer malah mengevaluasi kinerja Menteri hingga reshuffle yang menjadi Hak Prerogatif Presiden.

“Komisaris adalah organ Persero yang bertugas melakukan pengawasan dan memberikan nasihat kepada Direksi dalam menjalankan kegiatan pengurusan Persero.” Demikian bunyi Pasal 1 Poin 7 Undang Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN.

Padahal, Kapitra Ampera pernah mengakui kepada Threechannel bahwa di PT PPI dirinya mengemban tugas yang cukup berat. Ia dipercaya untuk membenahi BUMN tersebut karena berada dalam kondisi “merangkak” dan terlilit hutang. Meski berhasil mencatatkan laba bersih Semester I 2020 sebesar Rp 29 Miliar, Perusahaan Perdagangan Indonesia menderita kerugian Rp 99 Miliar di akhir tahun 2019 lalu dengan total hutang mencapai Rp 1,1 Triliun.

Sementara itu, Immanuel Ebenezer lebih beruntung dari Kapitra Ampera. Ia ditempatkan di Holding BUMN Pupuk Indonesia yang tetap digdaya meski dihantam Pandemi Covid-19. Pupuk Indonesia mencatatkan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 1,6 Triliun sepanjang Januari sampai Mei 2020 dan Rp 3,7 Triliun selama tahun 2019.

Walau demikian, bukan berarti Immanuel Ebenezer bisa berpangku tangan dan sibuk ‘menggoreng’ isu politik. Pasalnya, meski Pupuk Indonesia mengklaim berhasil menyalurkan 6,9 Juta Ton pupuk bersubsidi kepada petani hingga 21 Oktober 2020, para petani di sejumlah daerah tetap mengeluhkan kelangkaan pupuk bersubsidi.

Gatra melaporkan adanya kelangkaan pupuk Urea dan Poska di Kampung Bojong, Desa Bangun Jaya, Kuningan, Jawa Barat, pada Minggu (11/10/2020). Para petani terpaksa harus merogoh kocek sangat dalam dengan membeli pupuk nonsubsidi seharga Rp 6 Ribu per Kilogram. Sedangkan harga pupuk Urea bersubsidi hanya Rp 3 Ribu per Kilogram. Pun demikian yang terjadi di Banyuwangi, Jombang, Sukabumi dan Kabupaten Bandung.

Sebagai informasi, dua Komisaris Independen BUMN kompak “menabuh gendang” isu politik ketimbang fokus mengawasi kinerja Perseroan. Keduanya yakni Komisaris Independen Perusahaan Perdagangan Indonesia, Kapitra Ampera dan Immanuel Ebenezer selaku Komisaris Independen Holding BUMN Pupuk Indonesia.

Dalam tayangan Sapa Indonesia Malam yang disiarkan Kompas TV pada Selasa (27/10/2020), Immanuel Ebenezer menyindir seorang Menteri di Kabinet Indonesia Maju yang sibuk berbisnis dan mencari pamor untuk Pilpres 2024, sehingga pantas dicopot atau di-reshuffle. Menteri yang dimaksud namanya berawalan ‘Pra’ dan berakhir dengan huruf ‘O’. Meski tak menyebut secara gamblang, namun publik berasumsi bahwa yang disindir itu ialah Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

Sebelumnya, ketika menjadi narasumber di Kabar Petang tvOne pada Minggu (25/10/2020), Kapitra Ampera juga melontarkan pernyataan yang senada. Menurutnya, para Menteri harus bertanggungjawab pada bidangnya masing-masing dan ketika lari dari amanah tersebut maka wajib di-reshuffle. Termasuk Menteri yang masih terobsesi menjadi Presiden sehingga tidak fokus menjalankan tugasnya. (ham)