Ilustrasi pemakaman jenazah korban Covid-19. (Ist)

THREECHANNEL.CO – Direktur Eksekutif Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi, mengecam tindakan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, yang seolah bersolek dengan tanah makam para korban Covid-19. Alih-alih menawarkan terobosan yang solutif, Anies Baswedan justru dinilai tampil mencitrakan diri lewat pernyataan fenomenal dan sensasional bertajuk “Rem Darurat”.

“Aku tidak habis pikir bagaimana bisa dan teganya seorang Gubernur tampil mencitrakan diri dengan kebijakan asal beda dan asal duluan ketika Covid-19 merenggut sekian banyak nyawa warga Jakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya. Anies tak ubahnya seperti bersolek dengan tanah makam para korban Covid-19,” ujar R Haidar Alwi kepada Threechannel, Minggu (13/9/2020) malam.

Pengumuman Rem Darurat (PSBB-red) oleh Anies Baswedan pada Rabu (8/9/2020) dilakukan tanpa terlebih dahulu berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat dan Kepala Daerah penyangga ibukota. Hal itu lantas menuai polemik, kontroversi dan kegaduhan. Bahkan sejumlah pengamat memprediksi pengumuman tersebut mengantarkan Indonesia pada kepastian akan terjadinya resesi ekonomi.

Industri yang tengah berbenah mengatur nafasnya, kembali frustasi dihantui kebangkrutan, sementara jutaan karyawan terancam kehilangan pekerjaannya. Jika hal ini terjadi, maka jumlah pengangguran dan kemiskinan akan meledak. Ditakutkan angka kejahatan di DKI Jakarta dan sekitarnya yang memang sudah tinggi juga ikut melonjak tajam. Ujungnya, beban negara dan rakyat akan semakin terasa berat.

Kekhawatiran pun memuncak setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkapar di zona merah karena anjlok 5,01% ke level Rp 4.891,46 hingga perdagangan saham sempat dihentikan sementara. Tidak tanggung-tanggung, nilai kapitalisasi pasar tergerus sampai Rp 297,26 Triliun dibanding hari sebelumnya.

“Optimisme dan langkah pemulihan berbagai sektor yang dibangun Presiden Jokowi dengan susah payah seketika rontok oleh pernyataan Anies. Karena sekitar 70% perputaran uang nasional ada di Jakarta dan ibukota memengaruhi kurang lebih 20% inflasi nasional. Sehingga kalau Jakarta lumpuh atau dilumpuhkan, dipastikan Indonesia akan bernasib sama,” tutur R Haidar Alwi.

Ironisnya, setelah berkoordinasi dengan pihak terkait, ternyata apa yang disebut Anies Baswedan sebagai rem darurat tidak seheboh kegaduhan dan dampak yang telah ditimbulkannya. Kesimpulan ini diperoleh pasca Anies Baswedan menggelar konferensi pers lanjutan tentang juknis pelaksanannya di Balaikota Jakarta pada Minggu (13/9/2020).

“Judulnya rem darurat sampai jadi headline atau berita utama di berbagai media. Seolah-olah wah, sehingga heboh dan gaduh. Tapi ternyata tidak berbeda jauh dengan PSBB sebelumnya. Tidak ada terobosan sama sekali. Ibarat motor suara knalpotnya doang yang bising tapi nggak ada tenaganya. Tanpa disadari malah muka orang di belakangnya jadi hitam terkena asap pekatnya,” kata R Haidar Alwi.

Oleh karena itu, ia meminta agar Anies Baswedan lebih berhati-hati atau berpikir matang sebelum membuat pernyataan maupun kebijakan. Jangan sampai kegaduhan yang ditimbulkan lebih besar dari manfaat nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Selain itu, penerapan PSBB di Jakarta perlu dikaji ulang dengan serius karena selama 6 (enam) bulan terbukti tidak efektif menekan angka infeksi Virus Corona.

“PSBB berjilid-jilid tapi jumlah pasien positif Covid-19 dan korban meninggal masih bergejolak. Kalau pengalaman rasanya sudah cukup 6 bulan ini. Makanya harus dikaji ulang, dievaluasi dan betul-betul diseriusi. Cari terobosanlah. Penerapan kebijakan di lapangan juga mesti tegas terutama sanksi bagi para pelanggar. Jika tidak, ya percuma. Yang ada malah memperparah kerusakan di sektor lain dan membuat kehidupan masyarakat semakin sengsara,” pungkas R Haidar Alwi. (ham)