Ketua Bidang Politik dan Keamanan DPP PDIP sekaligus Ketua DPR RI, Puan Maharani. (Ist)

THREECHANNEL.CO – Masyarakat Sumatera Barat dan Minangkabau pada umumnya diminta untuk tetap tenang dan tidak terhasut oleh berbagai upaya provokasi yang dilakukan oknum tertentu untuk memecah-belah bangsa. Ketimbang berbantah-bantahan terkait Pancasila yang notabene sudah bersifat final, Indonesia lebih baik berdamai bahu-membahu untuk fokus pada penanganan dampak Pandemi Covid-19.

Menjelang pesta demokrasi seperti Pilkada Serentak 2020 yang akan digelar pada 9 Desember mendatang, berbagai upaya dilakukan untuk menjatuhkan lawan bahkan dengan cara mempolitisasi Pancasila. Termasuk dengan mempelintir atau menggoreng pernyataan Ketua Bidang Politik dan Keamanan DPP PDIP, Puan Maharani. Cara-cara kotor seperti ini biasanya dilakukan oleh mereka yang mengedepankan emosi, berpikiran dan berpandangan sempit.

“Kalau kita perhatikan yang mempelintir dan meributkan pernyataan Mbak Puan, kita sama-sama tahu, elit-elit politik itu-itu saja. Untuk apa? Demi kepentingan politiknya. Mereka tidak akan peduli walau bangsa ini terpecah-belah. Yang penting tujuannya tercapai,” ujar tokoh nasional anti intoleransi, radikalisme dan terorisme, R Haidar Alwi, Jumat (4/9/2020).

Dikatakannya, sejarah mencatat bahwa Indonesia berdiri tidak terlepas dari peranan besar para tokoh, pejuang dan pahlawan dari Sumatera Barat. Bahkan salah satu proklamator kita yakni Bung Hatta berasal dari Bumi Minangkabau. Seantero negeri ini tahu dan tak satupun yang meragukan nasionalisme maupun jiwa Pancasilanya.

“Apalagi masyarakat Sumbar dan Minangkabau itu dari dulu terkenal bijak dengan falsafah hidupnya yang sesuai dengan Pancasila. Itulah kenapa mereka “bisa hidup” di mana pun berada. Jadi, aku yakin Sumbar dan Minangkabau yang orangnya “alim dan tahu” tidak akan terprovokasi,” tutur R Haidar Alwi.

Sangat disesalkannya ketika pemerintah berjuang menyelamatkan 270 juta rakyat Indonesia dari gempuran Virus Corona, masih ada saja elit tertentu yang tega memanfaatkan keadaan demi ambisi politik. Bukannya meringankan beban yang sedang dihadapi, kegaduhan yang ditimbulkan malah akan menggangu konsentrasi pemerintah dalam menangani dampak Pandemi Covid-19. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa, baik elit maupun akar rumput untuk berhenti memperpanjang polemik tersebut.

“Sudahlah. Mbak Puan dan tokoh-tokoh Sumbar atau Minang mendingan “Islah” saja, berdamai. Berikan contoh karena kita krisis keteladanan. Selesaikan dengan musyawarah mufakat. “Bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mufakaik”. Ketimbang berbantah-bantahan lebih baik kita fokus menyelamatkan bangsa dari Pandemi Covid-19 dan dampak yang ditimbulkannya. Kalau orang Minang bilang, “barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang”. Dalam Bahasa Indonesia arti singkatnya adalah gotong-royong,” papar R Haidar Alwi.

Sebelumnya, Ketua Bidang Politik dan Keamanan DPP PDIP, Puan Maharani menuai kecaman karena pernyataannya dalam acara pengumuman Calon Kepala Daerah Tahap V pada Rabu (2/9/2020). Akibat pernyataan tersebut, sejumlah pihak mendesak agar Puan Maharani meminta maaf lantaran dinilai meragukan ideologi masyarakat Sumatera Barat dan Minangkabau.

“Rekomendasi diberikan kepada Insinyur Mulyadi dan Drs H Ali Mukhni. Merdeka! Semoga Sumatera Barat menjadi provinsi yang memang mendukung Negara Pancasila,” kata Puan Maharani. (ham)