Kolase cover Koran Tempo Edisi Senin, 31 Agustus 2020 dan Garuda Pancasila. (Ist)

THREECHANNEL.CO – Direktur Eksekutif Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi mengecam keras Cover Koran Tempo Edisi Senin, 31 Agustus 2020. Ia menilai Tempo sudah sangat keterlaluan dan mengarah pada pelecehan terhadap Lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan mempelintir Kepala Garuda Pancasila.

Di satu sisi ia angkat topi dengan berita-berita eksklusif dan tergolong berani yang disajikan oleh Tempo. Pasalnya, saat media-media mainstream memuat informasi yang datar dan membosankan, Tempo justru menawarkan sesuatu yang berbeda hingga menonjolkan pers sebagai kontrol sosial & kebijakan pemerintah.

Namun di sisi lain, Tempo kerap kali menuai kontroversi terutama pada bagian covernya. Setelah siluet menyerupai Presiden Joko Widodo (Jokowi) berhidung panjang pada cover Majalah Tempo, kini muncul Burung Garuda yang kepalanya dipelintir pada cover Koran Tempo Edisi Senin, 31 Agustus 2020.

“Sudah cukup Tempo berlindung di balik kebebasan pers. Kali ini sudah sangat keterlaluan, mengarah pada pelecehan dan penghinaan terhadap Lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bertentangan dengan Undang Undang Nomor 24 Tahun 2009 Tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Dalam Pasal 46 telah diatur dengan tegas bahwa Kepala Burung Garuda menoleh lurus ke sebelah kanan, bukan mendongak ke arah kiri dengan paruh menganga dan bulu rontok seperti yang digambarkan Koran Tempo,” ujar R Haidar Alwi kepada Threechannel, Senin (31/8/2020) malam.

Tangkapan layar website Koran Tempo terkait Kepala Garuda Pancasila yang dipelintir pada cover Koran Tempo Edisi Senin, 31 Agustus 2020. (koran.tempo.co)

Berdasarkan penelusuran Threechannel melalui website resminya, Koran Tempo merilis cover tersebut dengan judul “Petaka Normal Baru” dilengkapi sembilan baris deskripsi. Tampak ilustrasi Virus Corona berwarna kemerahan dan Burung Garuda berbulu kuning keemasan. Kedua kaki dan paruhnya digambarkan dengan biru cerah. Selain perisai pada bagian dada, ada pula pita putih bertuliskan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang dicengkeram oleh kedua kakinya.

Burung Garuda itu terlihat tengah mengepakkan kedua sayapnya, yang mana beberapa lembar bulunya terlepas bahkan menancap pada ilustrasi Virus Corona. Sekilas tidak ada yang aneh dengan cover Koran Tempo ini. Namun bila diperhatikan dengan teliti, dijumpai keanehan pada bagian kepalanya. Bila seharusnya menoleh lurus ke arah kanan, Koran Tempo mempelintirnya ke arah kiri dengan posisi kepala mendongak dan paruh menganga.

Hal ini bertentangan dengan Undang Undang Nomor 24 Tahun 2009 Tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Dalam Pasal 46 diatur dengan tegas bahwa, “Lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia berbentuk Garuda Pancasila yang kepalanya menoleh lurus ke sebelah kanan, perisai berupa jantung yang digantung dengan rantai pada leher Garuda dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang ditulis di atas pita yang dicengkeram oleh Garuda.” (ham)