Somasi yang dilayangkan Animal Defenders Indonesia terhadap GrabFood dan GoFood terkait maraknya penjualan makanan hasil olahan daging anjing, Selasa (25/8/2020).(Dokumentasi Animal Defenders Indonesia)

THREECHANNEL.CO – Komunitas Pecinta Hewan, Animal Defenders Indonesia melalui kuasa hukumnya dari Pejuang Hak Hidup Hewan (PH3) akhirnya melayangkan somasi kepada dua raksasa e-commerce secara sekaligus, Selasa (25/8/2020). Pasalnya, meski berulangkali diingatkan dan berjanji tidak akan memfasilitasi penjualan makanan olahan daging anjing, GrabFood dan GoFood tetap saja membandel.

“Kami sudah temui mereka dalam konteks friendly reminder pada awal Februari 2020. Melalui pertemuan itu disepakati untuk tidak memberikan ruang pada merchant-merchant nakal yang tetap menjual makanan olahan daging anjing dengan cara-cara licik. Namun faktanya masih kita dapati hal-hal semacam itu di GrabFood maupun GoFood. Karena itu, tadi siang kami secara resmi melayangkan somasi tertulis kepada keduanya,” ujar Pendiri sekaligus Ketua Animal Defenders Indonesia, Doni Herdaru Tona, Selasa (25/8/2020) sore.

Selain itu, ia mendesak Pemprov DKI Jakarta agar benar-benar serius dalam mengawasi keluar-masuk anjing hidup untuk pasokan daging anjing di wilayah ibukota. Selain melanggar hukum, juga berpotensi membawa rabies masuk ke DKI Jakarta karena anjing-anjing dipasok dari daerah-daerah yang masih ada kasus rabies seperti Sukabumi, Pelabuhan Ratu, Ciamis dan sekitarnya.

“Sedangkan DKI berstatus bebas rabies dan mati-matian mempertahankan status tersebut. Ironisnya, di satu sisi mempertahankan status bebas rabies dan di sisi lain malah membiarkan satu jalur yang sangat rentan membawa masuk rabies ke Jakarta. Karenanya, Pemprov DKI Jakarta harus tegas dan kalau perlu memberikan sanksi terhadap para pelanggar. Sebab, sosialisasi dan cara-cara persuasif sudah tidak diindahkan lagi, mereka tetap bandel,” tutur Doni Herdaru Tona.

Walau demikian, dirinya tetap berharap supaya GrabFood dan GoFood berpegang teguh pada komitmen yang pernah dibuat. Makin serius menjaga aplikasi mereka dari pelanggaran-pelanggaran hukum seperti yang telah dijabarkan Animal Defenders Indonesia secara langsung.

Sebagaimana diketahui, Grab Indonesia menjadi raksasa e-commerce ke-tiga yang digeruduk Animal Defenders Indonesia dalam satu pekan terakhir terkait penjualan daging anjing secara online.

Setelah mengunjungi kantor Tokopedia pada Senin (3/2/2020) dan Gojek pada Rabu (5/2/2020), Animal Defenders Indonesia melanjutkan perjuangannya dengan menyambangi kantor Grab Indonesia, Jumat (7/2/2020).

“Senang mendengar bahwa Grab juga telah aware akan hal ini dan sejalan dengan campaign kita dalam mengenyahkan daging anjing dari menu yang ditawarkan di Grab Food. Grab juga berkomitmen untuk mengupdate atau menambahkan larangan menjual daging anjing dalam kesepakatan maupun aturan mereka,” ujar Pendiri sekaligus Ketua Animal Defenders Indonesia, Doni Herdaru Tona dalam keterangan tertulisnya, Jumat (7/2/2020).

Ia menjelaskan, bagi merchant atau restoran yang masih nekad menjual daging anjing dan hewan liar lainnya, Grab Indonesia berjanji akan memberikan sanksi berupa take down menu hingga penghapusan merchant dari aplikasi.

Oleh karena itu, Doni Herdaru Tona meminta agar masyarakat turut berpartisipasi dalam mengawasi penjualan daging anjing secara online. Terkadang, walaupun menu daging anjing sudah di-take down, merchant mengakalinya dengan nama atau keyword baru.

“Jika mereka kreatif mengganti istilah daging anjing agar tidak terdeteksi sistem dan lolos dari pengawasan manual, mari kita juga makin ketat mengawasi merchant-meechant yang sudah kita pantau menjual daging anjing. Apakah mereka mengubah kata-kata tersebut atau beneran sudah tidak menjual lagi,” tutur Doni Herdaru Tona.

Kini, Animal Defenders Indonesia sedikit merasa lega karena langkah mempersempit penjualan daging anjing sudah gencar dilaksanakan dan mendapatkan respon yang baik dari penyedia aplikasi.

Pihaknya sengaja terlebih dahulu menyasar platform e-commerce raksasa lantaran tingginya perputaran penjualan daging anjing dan hewan liar lainnya. Selain itu, SDM berkualitas juga diharapkan mampu menyerap keluhan dan saran terkait potensi pelanggaran aturan karena memfasilitasi penjualan makanan hasil olahan daging anjing.

“Keberhasilan berkomunikasi dengan Tokopedia, Gojek dan Grab serta saling menjaga agar tidak ada kecolongan jual daging anjing di menu, adalah keberhasilan kita semua. Tanpa kawan-kawan yang ikut memberikan info di daerah masing-masing, hal ini akan sangat sulit dicapai,” katanya.

Menurutnya, perjuangan memusnahkan penjualan makanan hasil olahan daging anjing belumlah usai. Namun, dengan dukungan dari semua pihak, hal yang berat dan butuh waktu panjang pun diyakini akan berhasil dalam rangka menuju Indonesia yang lebih baik.

“Mari terus tekan supply and demand di pangsa pasar daging anjing. Demand kita persempit dengan edukasi dan merapikan aplikasi-aplikasi, serta edukasi. Supply kita ganggu dengan banyak rescue, mengadopsi dan merumahkan anjing-anjing tak berpemilik di luar sana,” pungkasnya. (ham)