Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Menteri BUMN, Erick Thohir. (ist)

THREECHANNEL.CO – Direktur Eksekutif Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi mengingatkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk tidak memberikan tugas yang berlebihan kepada Menteri BUMN Erick Thohir. Alih-alih dapat menyelesaikan segudang persoalan di Kementerian yang dipimpinnya, beban berat yang dikeluhkan Erick Thohir tersebut justru malah membawa energi dan dampak negatif terhadap lingkungan kerjanya.

Di satu sisi, adalah sah-sah saja bila Presiden Jokowi memberikan kepercayaan penuh kepada Erick Thohir untuk menjalankan tugas utamanya sebagai Menteri BUMN. Namun di sisi lain, akan menjadi masalah baru bila dibebani dengan tugas tambahan yang berat dan berlebihan ketika tugas utama masih menyisakan banyak Pekerjaan Rumah (PR).

“Erick Thohir itu bukan robot atau manusia super. Robot saja punya keterbatasan apalagi kita manusia. Jadi, janganlah semuanya dibebankan kepada Erick Thohir. Beban tugas di BUMN itu sudah berat karena banyak masalah. Sekarang diperberat lagi dengan tugas sebagai Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Bagaimana masalah bisa selesai, yang ada malah menambah masalah baru sehingga semuanya jadi berantakan,” ujar R Haidar Alwi, Minggu (2/8/2020) malam.

Padahal, dalam Pasal 13 Ayat (2) Huruf (b) Undang Undang Nomor 39 Tahun 2008 Tentang Kementerian Negara diatur bahwa harus dipertimbangkan juga cakupan tugas dan proporsionalitas beban tugas. Baik Presiden selaku Pemberi Tugas maupun Erick Thohir sebagai Penerima Mandat seperti tidak berpedoman kepada ketentuan tersebut. Sehebat dan seserius apapun Erick Thohir, kinerjanya tidak akan maksimal bila tidak tersedia cukup waktu.

“Pemerintahan Pak Jokowi terkesan Erick Sentris. Seolah tidak ada yang kemampuannya di atas Erick Thohir sehingga diberi kepercayaan lebih dibandingkan Menteri lainnya. Padahal perusahaan Erick Thohir itu, Mahaka Media rugi empat tahun berturut-turut dari 2015-2018. Mengelola perusahaan sendiri saja amburadul, gimana bisa dipercaya mengelola ekonomi nasional saat di ambang krisis? Jadi, kebijakan Pak Jokowi yang Erick Sentris ini menurutku terlalu berisiko. Apalagi yang dipercaya sudah mengeluh berkali-kali,” papar R Haidar Alwi.

Sebagaimana diketahui, Menteri BUMN Erick Thohir kembali mengeluhkan tugasnya sebagai Menteri BUMN saat terlambat menghadiri Awarding Day BUMN Milenial Inovation Summit 2020 yang diselenggarakan pada Kamis (30/7/2020). Erick Thohir mengaku keterlambatannya disebabkan oleh beban tugas yang dipikulnya belakangan ini semakin bertambah berat.

“Tentu saya mohon maaf telat, karena tugasnya (saya) mulai kebanyakan. Saya (juga) bertugas (sebagai) Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional bersama Wamen saya Pak Budi,” tutur Erick Thohir dalam pidato pembukaannya.

Sebelumnya, Erick Thohir juga sempat mengungkapkan bahwa dirinya lebih bahagia menjadi pengusaha ketimbang menjabat sebagai Menteri BUMN. Hal itu disampaikannya dalam sebuah perbincangan dengan KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym yang videonya diunggah ke Channel YouTube Aagym Official, Rabu (13/5/2020).

“Nggak, Aa tahulah. Cita-citanya pengusaha kok Aa. Tapi ya nggak tahulah Aa garis tangan rahasia Allah.”

“Kan memang maunya jadi pengusaha Aa. Enak jadi pengusaha.”

“Lebih bahagia sebelumnya lah Aa. Apalagi waktu ngurus bola, bahagia banget Aa.” Demikian kata Erick Thohir.

Pada pertengahan Januari 2020, Menteri BUMN Erick Thohir juga sempat curhat mengenai permasalahan yang sama.

“Kalau menteri, gajinya hanya Rp 19 juta. Padahal kebijakan yang kami ambil, jauh lebih besar dibanding perusahaan swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN),” ucap Erick Thohir di Jakarta, Jumat (17/1/2020). (ham)