Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Mendikbud RI), Nadiem Makarim. (Dok. Istimewa)

THREECHANNEL.CO – Institut Pertanian Bogor (IPB) menjadi Perguruan Tinggi Terbaik 2020 berdasarkan pemeringkatan yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia. IPB berhasil naik dua peringkat dari tahun 2019 dan menggeser posisi Institut Teknologi Bandung (ITB) yang melorot ke peringkat lima.

“Perjuangan kelak akan menjadi sejarah. Sejarah yang akan menjadi cerita bahagia tentang kehidupan. Pahit yang telah didapat takkan terasa kelak. Karena manisnya telah menjadi juara dari segala rasa. Perjuangan belum selesai. Terus mencipta jaya dan kampusku tetap digdaya. IPB! Digdaya!” Demikian caption yang diunggah akun Instagram resmi IPB @ipbofficial, Senin (17/8/2020).

Berikut 15 Perguruan Tinggi Terbaik 2020 versi Kemendikbud RI:

1. Institut Pertanian Bogor
2. Universitas Indonesia
3. Universitas Gadjah Mada
4. Universitas Airlangga
5. Institut Teknologi Bandung
6. Institut Teknologi Sepuluh November
7. Universitas Hasanuddin
8. Universitas Brawijaya
9. Universitas Diponegoro
10. Universitas Padjadjaran
11. Universitas Sebelas Maret
12. Universitas Negeri Yogyakarta
13. Universitas Andalas
14. Universitas Sumatera Utara
15. Universitas Negeri Malang

Sedangkan 20 Perguruan Tinggi Terbaik 2019 versi Kemendikbud RI adalah sebagai berikut:

1. Institut Teknologi Bandung
2. Universitas Gadjah Mada
3. Institut Pertanian Bogor
4. Institut Teknologi Sepuluh November
5. Universitas Indonesia
6. Universitas Diponegoro
7. Universitas Airlangga
8. Universitas Hasanuddin
9. Universitas Brawijaya
10. Universitas Padjajaran
11. Universitas Andalas
12. Universitas Sebelas Maret
13. Universitas Sumatera Utara
14. Universitas Telkom
15. Universitas Pendidikan Indonesia
16. Universitas Negeri Yogyakarta
17. Universitas Islam Indonesia
18. Universitas Negeri Semarang
19. Universitas Negeri Malang
20. Universitas Bina Nusantara.

Sebagai informasi, tujuan klusterisasi perguruan tinggi ini adalah merumuskan pencirian kualitas perguruan tinggi yang telah terdokumentasi di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD Dikti) serta melakukan telaah klusterisasi berdasarkan pencirian tertentu guna kepentingan pembinaan perguruan tinggi.

Hasil klusterisasi ini digunakan untuk membangun landasan bagi Kemendikbud dan perguruan tinggi guna melakukan perbaikan terus-menerus dalam rangka meningkatkan performa serta kesehatan organisasi.

Sementara, sumber data yang digunakan untuk menyusun klusterisasi merupakan data yang siap guna dan berasal dari PD Dikti. Data yang tidak tercakup dalam PD Dikti tetapi merupakan hasil penilaian dari unit kerja Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Data yang belum tercakup dalam PD Dikti tetap dikumpulkan secara terstruktur oleh unit kerja dan relevan dengan klusterisasi perguruan tinggi, serta data dari eksternal Kemendikbud tetapi sudah mapan dan dapat menggambarkan kualitas perguruan tinggi (data akreditasi, kinerja penelitian, inovasi, data Abdimas, dan data publikasi terindeks scopus).

Indikator klusterisasi perguruan tinggi 2020 dibagi menjadi empat yaitu input, proses, output dan outcome. Indikator input meliputi persentase dosen berpendidikan doktor (S3), persentase dosen dengan jabatan Lektor Kepala dan Guru Besar, rasio jumlah mahasiswa terhadap dosen, jumlah mahasiswa asing dan jumlah dosen bekerja sebagai praktisi di industri.

Dari indikator proses, terdiri dari akreditasi institusi Badan Akreditasi Nasional-Pendidikan Tinggi (BAN-PT), akreditasi program studi BAN-PT, pembelajaran daring, kerjasama perguruan tinggi, kelengkapan laporan PD Dikti, jumlah program studi bekerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Selanjutnya, lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau QS Top 100 World Class University (WCU) by subject, program studi yang melaksanakan program merdeka belajar dan mahasiswa yang mengikuti program Merdeka Belajar.

Sementara itu, indikator output terdiri dari jumlah artikel ilmiah terindeks per dosen, kinerja penelitian, kinerja kemahasiswaan dan jumlah program studi yang terakreditasi internasional.

Adapun dari sisi outcome, indikator yang dinilai berupa kinerja inovasi, persentase lulusan yang memperoleh pekerjaan dalam waktu enam bulan, jumlah sitasi per dosen, jumlah paten per dosen dan kinerja pengabdian masyarakat. (gus)