Ilustrasi: Pedangdut Bebizie dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. (Tribun)

THREECHANNEL.CO – “Abang pilih yang mana, perawan atau janda? Perawan memang menawan, janda lebih menggoda.” Lagu yang dipopulerkan oleh Pedangdut Cita Citata ini kiranya pas disematkan pada kebijakan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Ketimbang memilih yang masih “segelan”, ia rupanya kepincut pada yang sudah “berpengalaman”. Demi memboyong “Si Nyonya Tua”, Prabowo Subianto bahkan sampai melawat ke 7 negara.

Perburuannya keliling dunia sejak dilantik pada 23 Oktober 2019 lalu, akhirnya berhenti di Austria. Barang bekas pakai negara Eropa Barat berupa pesawat Eurofigther Typhoon benar-benar membuat “Jenderal Berkuda” itu jatuh hati. Tidak tanggung-tanggung, ia berencana membawa pulang 15 di antaranya. Mungkin inilah yang disebut Diplomasi pertahanan untuk modernisasi alutsista ala Prabowo Subianto. Modernisasi tapi beli barang tua bekas pakai. Hebat bukan?

“Undang Undang Nomor 16 Tahun 2012 Tentang Industri Pertahanan mengatur adanya kewajiban menggunakan alutsista buatan dalam negeri. Kalaupun terpaksa mendatangkan dari luar, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Lalu, kenapa Prabowo Subianto begitu berhasrat mendatangkan alutsista bekas pakai dari luar negeri padahal tidak dalam kondisi mendesak???”

“Yang dimaksud dengan “kebutuhan mendesak” adalah suatu kondisi pada saat NKRI mendapatkan ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri sehingga perlu segera dibutuhkan pengadaan Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan yang memadai agar dapat mengatasi ancaman tersebut dengan efektif.” Demikian ujar Direktur Eksekutif Haidar Alwi Institute (HAI) dalam keterangan tertulisnya, Selasa (28/7/2020).

Tanpa (baca: belum) berdiskusi dengan DPR RI, PT Dirgantara Indonesia dan TNI sebagai pengguna, Prabowo Subianto “ngebet” berkirim surat kepada Departemen Pertahanan Austria pada tanggal 7 Juli untuk mengutarakan hasratnya. Sekilas memang aduhai dan menggoda sekali, tapi keamanan dan pertahanan negara dipertaruhkan. Selain itu, tidak jarang kecelakaan pesawat TNI terjadi ketika menggunakan pesawat bekas pakai. Biaya operasional, pemeliharaan (maintenance), pelatihan dan lain sebagainya memerlukan anggaran yang terbilang besar dan belum tercantum dalam RAPBN 2020 maupun 2021.

Eurofigther Typhoon memiliki masa manfaat 30 tahun, sementara sudah digunakan oleh Austria selama 17 tahun. Itu artinya, hanya tersisa 13 tahun lagi untuk digunakan Indonesia. Dengan biaya operasional 15 pesawat yang mencapai Rp 6,5 Triliun per tahun, Indonesia harus menggelontorkan setidaknya Rp 84,5 Triliun dalam periode tersebut. Belum termasuk biaya pelatihan dan pemeliharaan (maintenance) sesudah pembelian. (ham)