Presiden Joko Widodo (Jokowi) (kiri) dan Menteri BUMN Erick Thohir (kanan) ketika mengikuti rangkaian kegiatan Pilpres 2019. (Twitter @erickthohir)

THREECHANNEL.CO – Direktur Eksekutif Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi menilai Presiden Joko Widodo (Jokowi) berada di bawah bayang-bayang Menteri BUMN Erick Thohir. Bila secara de jure Presiden Jokowi adalah Kepala Negara sekaligus Kepala Pemerintahan, maka secara de facto posisi tersebut ditempati oleh Menteri BUMN Erick Thohir.

“Layaknya para nabi dan rasul yang diberi mukjizat oleh Allah SWT. Demikian juga Erick Thohir yang mendapatkan keistimewaan dari Presiden Jokowi. Baik perlakuan, kedudukan, kekuasaan dan kekuatan melebihi Menteri lainnya. Akan tetapi keistimewaan itu menjadikan Presiden Jokowi terkesan berada di bawah bayang-bayang Erick Thohir. Secara de jure Presidennya memang Pak Jokowi, namun secara de facto adalah Erick Thohir,” ujar R Haidar Alwi, Jumat (24/7/2020) malam.

Bayangkan, dalam kurun waktu 2 tahun karir politik Erick Thohir melaju bagaikan kecepatan cahaya. Dari satu di antara sekian banyak pebisnis tanah air, tiba-tiba Erick Thohir menjelma menjadi anak emas Presiden Jokowi. Terbaru, Erick Thohir ditunjuk menjadi Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional. Padahal, ada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Menteri Keuangan yang dinilai lebih tepat mengingat permasalahan utama saat ini adalah rendahnya realisasi stimulus fiskal dalam penanganan dampak Pandemi Covid-19.

Jika dilihat dari rekam jejaknya, Erick Thohir lebih banyak diwarnai sensasi daripada prestasi. Sensasional karena membeli klub-klub olahraga internasional terutama Inter Milan yang melambungkan namanya. Di dunia bisnis juga tidak begitu cemerlang karena perusahaan milik Erick Thohir, Mahaka Media Group mencatatkan kerugian selama 5 tahun berturut-turut dari 2014 sampai 2018.

Satu-satunya prestasi membanggakan Erick Thohir adalah kesuksesan penyelenggaraan Asian Games 2018, yang mana saat itu Erick Thohir menjabat sebagai Ketua INASGOC atau Ketua Panitia Penyelenggara. Menjadi Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf tidak dapat dibilang kesuksesan Erick Thohir karena tidak terlepas dari peran penting parpol koalisi dan para relawan yang cinta kepada sosok Presiden Jokowi.

“Pilpres 2014 Ketua TKN itu Tjahjo Kumolo, apakah dapat keistimewaan seperti Erick Thohir? Tidak, kecuali dia ditunjuk jadi Mendagri 2014-2019. Lalu, kenapa Erick Thohir begitu diistimewakan? Pernah tidak terlintas pertanyaan itu dalam pikiran kita? Apakah karena TKN berhutang banyak untuk dana kampanye pada keluarga Thohir sehingga Presiden Jokowi seolah tersandera? Atau karena apa? Hanya orang-orang yang punya mukjizat yang bisa melaju secepat itu, apalagi mematahkan dominasi parpol, termasuk lingkaran istana yang terkenal angker dan kedap suara itu,” tutur R Haidar Alwi.

Setelah berhasil merangsek masuk dalam kabinet dan menjadi anak emas Presiden Jokowi, Erick Thohir diberi kepercayaan penuh untuk melakukan perombakan besar-besaran di BUMN. Meski kemudian terindikasi melanggar belasan peraturan perundang-undangan dan menuai kontroversi terkait pengangkatan Dewan Komisaris BUMN. Tak ada yang mampu menggoyahkan, bahkan nama besar seorang Adian Napitupulu sekalipun menjadi tak berarti di depan Presiden Jokowi dan hanya dianggap “angin lalu” oleh Erick Thohir.

Erick Thohir seharusnya dapat bersikap terbuka menyikapi segala kritik membangun yang dilayangkan kepadanya terkait persoalan di tubuh BUMN. Duduk bersama saling bertukar pikiran jauh lebih baik ketimbang pamer arogansi dengan bersikap abai dan acuh. Apalagi, kritik tersebut datang dari kader parpol pendukung pemerintah yang loyalitasnya sudah teruji waktu, situasi dan kondisi.

“Ketika semua orang masih mendewakan Erick Thohir, aku sudah lebih dahulu mengkritik atau memberi masukan. Barulah kemudian belakangan ini terdengar suara Adian dan yang lainnya. Tapi Erick Thohir seperti tutup mata dan telinga. Presiden Jokowi juga tidak berkutik dan tidak berdaya. Kalau aku pribadi, didengar atau tidak, nggak masalah. Ini Adian Napitupulu ujung tombak PDIP, tokoh sentral 98 yang diminta langsung mengusulkan nama-nama calon Komisaris, Dubes dan sebagainya oleh Presiden Jokowi. Tak satu pun diakomodir Erick Thohir. Ternyata Erick Thohir lebih berkuasa dari Presiden Jokowi,” pungkas R Haidar Alwi. (ham)