Ilustrasi: Prajurit Nubika TNI AD. (ist)

THREECHANNEL.CO – Pandemi Covid-19 dapat menjadi sarana latihan sekaligus ujian bagi Indonesia untuk menghadapi perang dunia ke-tiga yang diprediksi akan menggunakan Senjata Nubika (Nuklir, Biologi dan Kimia). Walau secara langsung tidak ikut berperang dan mengembangkan Senjata Nubika, Indonesia harus memberikan perlindungan maksimal terhadap ratusan juta rakyatnya.

Persiapan menghadapi Perang Nubika ini dibahas oleh Brigjen Pol (Purn) Dr. Drs. Parasian Simanungkalit, SH, MH, selaku Ketua Umum DPN GEPENTA (Gerakan Nasional Peduli Anti Narkoba, Tawuran & Anarkis) dalam sebuah diskusi virtual “Bedah Buku Hadapi Perang Nubika”, Senin (27/7/2020).

“Oleh sebab itu marilah seluruh elemen bangsa Indonesia jangan lagi ribut karena perbedaan agama, suku dan ras. Jangan lagi saling menghina, bertikai, korupsi apalagi berupaya menggulingkan pemerintahan yang sah. Sudah saatnya kita membangun ketahanan nasional dalam semua aspek Ipoleksosbud Hankam untuk melindungi rakyat Indonesia dari ancaman Senjata Nubika yang merupakan pembunuh massal,” ujar Brigjen Pol (Purn) Dr. Drs. Parasian Simanungkalit, SH, MH.

Sebagaimana diprediksi majalah Ghost Fleet, pada tahun 2030 nanti Indonesia akan sudah bubar dan hanya tinggal nama. Prediksi tersebut kemudian dikutip oleh Letjen (Purn) Prabowo Subianto saat memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia pada tahun 2017 silam. Bagi orang awam mungkin tidak masuk akal bahkan bisa menjadi bahan olok-olok. Namun bagi mereka yang punya insting, pengetahuan dan pengalaman di bidang pertahanan dan keamanan, cepat atau lambat akan menjadi kenyataan.

Sebagai buktinya, saat ini TNI telah memiliki Kompi Nubika pada Korps Zeni TNI AD yang dikembangkan di tiap Kodam ada satu Peleton Nubika pada kesatuan Yon Zipur. Sedangkan di Polri ada Satuan Anti Biologi, Kimia dan Radioaktif pada Gegana Brimob Polri.

Ketua Umum DPN GEPENTA, Brigjen Pol (Purn) Dr. Drs. Parasian Simanungkalit, SH. MH. (ist)

Lalu, seberapa siapkah negara dan pemerintah menyelamatkan rakyatnya yang jumlahnya ratusan juta orang dari kepunahan akibat senjata pemusnah massal Nubika? Bagaimana kesiapan strategi, taktis dan teknis TNI/ Polri menangkal setiap rudal Nubika yang nyasar ke Indonesia? Dari sisi regulasi, apakah sudah diatur? Kalau belum ada, maka diperlukan Undang Undang Nubika.

Jika Virus Corona saja efeknya ke berbagai aspek bisa sedahsyat seperti sekarang ini, bayangkan betapa luar biasanya bila Indonesia digempur Senjata Nubika? Karenanya, kita bisa belajar dari penanganan Pandemi Covid-19 untuk sesegara mungkin berbenah diri, mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi Perang Nubika.

“Sudah bukan saatnya lagi hanya memikirkan ancaman komunis dan khilafah atau kelompok yang mau menjatuhkan pemerintahan yang sah. Sudah saatnya harus lebih dari itu yakni merencanakan pencegahan dan penanggulangan pembunuhan massal dengan menggunakan Senjata Nubika, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Oleh¬†karena itulah buku Hadapi Perang Nubika sebagai naskah intelektual dan saran menyelamatkan rakyat dan bangsa indonesia agar NKRI tetap kokoh berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,” papar Brigjen Pol (Purn) Dr. Drs. Parasian Simanungkalit, SH, MH.

Diberitakan sebelumnya, Ketua Umum DPN Gepenta (Gerakan Nasional Peduli Anti Narkoba, Tawuran & Anarkis), Brigjen Pol (Purn) Dr Drs Parasian Simanungkalit, SH MH, merilis buku terbarunya berjudul “Hadapi Perang Nubika”. Dari markas DPN Gepenta di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, rilis buku tersebut dilaksanakan secara virtual, Jumat (3/7/2020).

Ia mengatakan bahwa pembatasan sosial selama Pandemi Covid-19 mendorong masyarakat melakukan penyesuaian terhadap segala aktivitasnya. Mulai dari belajar, bekerja hingga beribadah dilaksanakan di rumah lantaran kegiatan outdoor sangat dibatasi untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Demikian pula yang terjadi pada Brigjen Pol (Purn) Dr Drs Parasian Simanungkalit SH MH. Di sela-sela kesibukannya beraktivitas di rumah selama kurang-lebih 4 bulan, ia berhasil menulis dan menyelesaikan sebuah buku.

Ide menulis buku “Hadapi Perang Nubika” berawal dari ingatannya pada ceramah tentang perang menggunakan senjata Nubika semasa menempuh pendidikan Perwira Siswa (Pasis) di Sekolah Staf & Komando Angkatan Laut (Sesko AL) tahun 1986/1987.

“Setelah menyaksikan kedahsyatan serangan Virus Corona Baru (SARS-CoV-2) melalui pemberitaan di televisi, pada akhir Januari saya mulai mengumpulkan data dan referensi terkait senjata Nubika (Nuklir, Biologi dan Kimia). Saya menggunakan pendekatan Filologi, sebuah metodologi yang sering dipakai dalam penelitian literatur kuno. Kenapa? Karena tidak memungkinkan keluar rumah. Situasi ini mirip zaman dahulu seperti berada di hutan belantara dan terkurung di suatu tempat,” ujar Brigjen Pol (Purn) Dr Drs Parasian Simanungkalit SH MH, Sabtu (4/7/2020).

Ketua Umum DPN GEPENTA, Brigjen Pol (Purn) Dr. Drs. Parasian Simanungkalit, SH. MH. (ist)

Buku “Hadapi Perang Nubika” memuat penjelasan tentang penggunaan senjata Nuklir, Biologi dan Kimia dalam peperangan yang pernah terjadi sebelumnya. Pada masa perang dunia 2, bom nuklir Amerika berhasil meluluhlantakkan Kota Hirosima dan Nagasaki hingga Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat. Sejak saat itu, negara-negara kaya di dunia berlomba-lomba membangun senjata nuklir yang lebih mematikan.

Selain nuklir, ada pula senjata biologi yang diteliti dan dikembangkan oleh setidaknya 17 negara, termasuk Tiongkok. Menurutnya, Covid-19 adalah bagian dari senjata biologi negeri tirai bambu yang bocor hingga mengancam keselamatan umat manusia di muka bumi. Terakhir adalah senjata kimia seperti yang digunakan oleh Pemerintah Suriah untuk melawan Pemberontak Kurdi. Akibatnya, Amerika harus meluncurkan rudalnya dari Kapal Induk yang ada di teluk ke Istana Suriah sebagai bentuk peringatan agar Suriah tidak menggunakan senjata kimia.

Belajar dari peristiwa tersebut, apabila perang dunia 3 pecah atau perang bilateral antara Tiongkok dan sekutunya melawan Amerika dan sekutunya, maka tidak tertutup kemungkinan penggunaan senjata Nubika (Nuklir, Biologi dan Kimia) secara serentak dan besar-besaran. Tentunya hal ini menjadi sebuah ancaman di masa depan yang harus diantisipasi oleh bangsa dan negara Indonesia. Apabila rudal berpeluru nubika ditembakkan, apakah Indonesia siap menanggulangi dan mengatasinya?

“Saya teringat pada ceramah Pak Prabowo Subianto dalam kuliah umum di Universitas Indonesia. Beliau mengutip dari majalah Ghost Fleet menyatakan tahun 2030 Indonesia bubar atau tinggal nama. Pada¬†waktu itu kita tertawa mendengarnya. Tapi dalam penilaian lingkungan strategik, bahwa tidak ada yang menjamin 1 sampai 10 tahun mendatang tidak akan ada perang yang menggunakan senjata Nubika. Peristiwa Wuhan Tiongkok saja sudah di semua negara terancam punah. Oleh karena itu Menteri Pertahanan harus dari sekarang membuat strategi penangkalan dan rencana penanggulangan agar apabila terjadi Perang Nubika Indonesia tetap kokoh,” papar Brigjen Pol (Purn) Dr Drs Parasian Simanungkalit SH MH.

Oleh karena itu, pihaknya bermaksud menggelar diskusi dan bedah buku “Hadapi Perang Nubika” secara virtual pada Senin (27/7/2020) mulai pukul 10.00 WIB. Ia bermohon agar Menteri Pertahanan Prabowo Subianto bersedia meluangkan waktu untuk menjadi keynote speaker dalam acara tersebut. Tak terkecuali Panglima TNI, Kapolri dan Gubernur Lemhannas diharapkan dapat menjadi narasumber.

Ketua Umum DPN Gepenta sekaligus Penulis buku, Brigjen Pol (Purn) Dr Drs Parasian Simanungkalit SH MH bersama Brigjen Pol (Purn) Drs Genot Haryanto MSi selaku Ketua Panitia/ Koordinator Sekjen DPN Gepenta akan memaparkan buku “Hadapi Perang Nubika”. Sedangkan Moderator yakni Dr Hervina Puspitasari SH MH. Selain itu, akan ada juga pembacaan puisi “Warisan Pahlawan” oleh Dr Andina Elok Puri Maharani SH MH, Dosen Fakultas Hukum UNS Solo. (ham)