Mantan Panglima NII, Anton Tagor Harahap alias Muammar Yassir menghadap tokoh nasional anti intoleransi, radikalisme dan terorisme, R Haidar Alwi, Minggu (26/7/2020) sore. (Threechannel)

THREECHANNEL.CO – Tokoh nasional anti intoleransi, radikalisme dan terorisme, R Haidar Alwi menerima kedatangan belasan mantan petinggi Negara Islam Indonesia (NII) atau yang dulu lebih dikenal dengan Daarul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/ TII), Minggu (26/7/2020) sore. Di hadapan R Haidar Alwi, rombongan yang dipimpin oleh Anton Tagor Harahap alias Muammar Yassir tersebut menyatakan kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa paham-paham yang bertentangan dengan Ideologi Pancasila menjadikan agama sebagai jubahnya dan agenda-agenda politik sebagai kendaraannya. Berawal dari Pilkada DKI 2017 silam hingga semakin berkembang pesat saat Pilpres 2019. Akibatnya adalah disintegrasi bangsa yang semakin nyata ditandai dengan polarisasi politik tercermin dalam frasa Cebong dan Kampret atau Kadrun.

“Jangan sampai momentum Pilkada serentak 2020 ini ditunggangi oleh penganut ideologi terlarang. Ini yang harus kita cegah bersama-sama. Salah satunya adalah dengan merangkul teman-teman mantan petinggi NII yang telah kembali kepada NKRI, Pancasila dan merah-putih. Aku minta supaya teman-teman semua lebih intens turun ke akar rumput untuk membantu pemerintah mengedukasi masyarakat, baik mantan pengikut maupun yang belum terkontaminasi,” ujar R Haidar Alwi kepada Threechannel, Minggu (26/7/2020).

Tokoh nasional anti intoleransi, radikalisme dan terorisme, R Haidar Alwi saat memberikan keterangan kepada wartawan usai menerima belasan mantan petinggi NII di Kawasan Tangerang Selatan, Minggu (26/7/2020). (Threechannel)

Sementara itu, Anton Tagor Harahap alias Muammar Yassir yang merupakan mantan Panglima NII memperkirakan jumlah pengikut organisasi tersebut saat ini telah mencapai 2 juta orang. Jumlahnya semakin bertambah lantaran proses perekrutan terus dilakukan walau dijalankan secara diam-diam namun tergolong masif. Meski banyak yang masuk atau bergabung, tidak sedikit pula yang memutuskan hengkang dan kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

“Kami bergerak di NII mulai tahun 1985 sampai 2002. Ratusan ribu yang bergabung dan ratusan ribu pula yang keluar. Teman-teman yang keluar ini saya perhatikan terbagi dalam 3 kelompok. Pertama, mereka yang sudah benar-benar sadar dan cinta NKRI. Ke-dua, masih menganut ideologi radikal kemudian berafiliasi dengan HTI, JI, ISIS dan lain sebagainya. Ke-tiga adalah mantan NII yang jadi apriori, tidak mau kenal Tuhan lagi, tidak mau ngomongin agama lagi dan tidan mau mikirin ideologi lagi. Yang dipikirkan hanya perut dan di bawah perut,” ungkap Muammar Yassir.

Anton Tagor Harahap alias Muammar Yassir (kiri), mantan Panglima NII memberikan keterangan kepada wartawan usai menemui tokoh nasional anti intoleransi, radikalisme dan terorisme, R Haidar Alwi di Kawasan Tangerang Selatan, Minggu (26/7/2020). (Threechannel)

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat bahu-membahu memberangus paham dan ideologi terlarang di tanah air. Target utamanya yakni merangkul 2/3 mantan pengikut NII yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dengan menggaungkan kecintaan terhadap Pancasila, NKRI dan merah-putih serta memberikan pemahaman akan bahaya paham-paham terlarang.

“Kami merasa terpanggil membela Pancasila, NKRI dan merah-putih, menyelamatkan Indonesia dari disintegrasi bangsa. Bersama Bang Haidar Alwi dan 1/3 mantan NII yang benar-benar telah sadar, kami yakin bisa merangkul yang 2/3 lagi. Kita jalan maju ke depan, bersama-sama memperjuangkan NKRI harga mati. Cukuplah kami yang pernah tersesat dan sekarang sudah kembali. Rakyat Indonesia yang lain jangan, jangan pernah bergabung dengan paham dan organisasi terlarang,” pungkas Anton Tagor Harahap alias Muammar Yassir. (ham)