Pendiri Kaukus Pancasila, sekaligus Ketua Alumni GMNI, Eva Kusuma Sundari. (ist)

TAJUK OPINI

Pancasila Sumber Kebahagiaan dan Jati Diri Bangsa

Oleh : Eva Kusuma Sundari – Pendiri Kaukus Pancasila & Ketua Alumni GMNI

THREECHANNEL.CO – Menghayati jati diri bisa mengantar seseorang meraih kebahagiaan asal kapasitas untuk berbahagia terus dikembangkan dan mau menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan hidup. Penghayatan Pancasila sebagai jati diri bangsa juga bisa menjadi sumber kebahagiaan masyarakat asal ada kerjasama antara individu, lingkungan dan negara.

Banyak filsuf menyarankan hal yang sama: untuk mencapai kebahagiaan, Kenalilah dirimu! Pengenalan identitas diri bisa dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan esensial semacam, siapa saya, darimana asalmu, apa mauku, atau apa tujuan hidup di dunia.

Jati diri, identitas, atau karakter seseorang bukan saja hasil dari pendidikan sendiri, keluarga tetapi juga dibentuk dari tradisi (pembiasaan-pembiasan) termasuk oleh masyarakat. Salah satu faktor penentu penting lainnya adalah otoritas di wilayah tersebut.

Pancasila dikatakan sebagai jati diri bangsa karena ia sudah menjadi pandangan hidup yang berkembang didalam masyarakat berdasar kesepakatan bersama. Berisi prinsip dan nilai dasar yang kemudian dijadikan sebagai dasar negara dan ideologi nasional bagi bangsa untuk menghadapi berbagai tantangan sepanjang jaman.

Sikap dan tindakan individu atau kelompok masyarakat yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip dari Pancasila oleh karenanya, bisa mendatangkan kegelisahan dan konflik laten atau terbuka. Disharmoni ini menyebabkan keterasingan dan ketidakbahagiaan bagi individu dan masyarakat.

Tindakan intoleransi misalnya, tentu menyebabkan kekecewaan dan penderitaan bagi korban tetapi juga mengakibatkan goncangan di masyarakat. Bagi pelaku, kesenangan sesaat bersumber dari sikap arogansi tersebut jelas bukan kebahagiaan yang menentramkannya apalagi jika kemudian berhadapan dengan konsekwensi hukum.

Tidak ada orang yang terlahir jahat, watak yang buruk adalah dampak pendidikan yang salah. Jadi pemberian pendidikan budi pekerti mulia harus gencar diberikan untuk menambah kapasitas individu dan masyarakat untuk mencapai kebahagiaan.

“….Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali tradisi kami jauh ke dasarnya dan keluarlah aku dengan lima butir mutiara yang indah.” Sukarno

Tujuan Hidup Bahagia

Orang bisa mencapai kebahagiaan jika memang berniat dan melakukan upaya untuk mencapai kebahagiaan. Orang tidak mungkin mewujudkan kebahagiaaan di tengah komunitas dan pemerintahaan yang anti kebahagiaan sehingga kerjasama diantara ketiganya harus dilakukan.

Sebagai masyarakat religius kita percaya bahwa kebahagiaan mutlak dan puncak adalah apabila kita bisa menjalankan perintah Tuhan (agama). Kesejahteraan jiwa adalah utama walaupun untuk itu diperlukan pemenuhan kebutuhan jasmani tetapi sebaiknya secukupnya saja, jangan mengalahkan yang utama.

Negara yang tidak adil dan mengabaikan keberlanjutan alam, serta masyarakat yang menyukai kekerasan jelas tidak bisa menjamin kebahagiaan seseorang. Kunci kebahagiaan jiwa oleh karenanya adalah adanya hubungan yang harmonis antara Tuhan – Manusia – Alam.

Individu, Masyarakat, dan Negara harus mempunyai akhalq yang sama dalam fungsinya sehingga kebahagiaan bisa diwujudkan. Kesepakatan sudah ada tetapi belum dioperasionalisasikan secara efektif yaitu berketuhanan (Believe in God), berperikemanusiaan (Humanity), persatuan (Unity), demokrasi (Democracy), dan keadilan sosial (Social Justice).

Gotong royong bedah rumah warga miskin misalnya, mendatangkan kebahagiaan baik bagi yang ditolong maupun yang menolong. Jika strategi gotong royong semacam tersebut kemudian diperdeskan atau diperdakan, dipergubkan maka genaplah syarat menciptakan kebahagiaan di komunitas tersebut.

Al Ghazali menjelaskan bahwa kebahagiaan individu bisa terwujud jika ada sistem yang saling mendukung – Bahagia Orangnya, Bahagia Kotanya dan Bahagia Negaranya. Sikap toleran warga bisa terwujud jika dia hidup di komunitas yang membaur lintas SARA (inklusif) dan negara mempunyai kebijakan untuk perumahan yang mewajibkan pembauran antar etnik seperti di Singapura.

KeBahagiaan seseorang atau masyarakat religius berakar pada filosofi bahwa hidup di dunia hanya mampir minum, tujuan akhir adalah kelak pulang ke sang pencipta. Kewajiban semua pihak adalah membuat kesempatan-kesempatan agar warga bisa dan mau melakukan kebaikan-kebaikan agar sang pencipta berkenan menerimanya.

Pemahaman demikian juga menjadi argumen Sukarno saat mengurai satu-persatu dari 5 sila, tiga sila maupun eka sila. Tidak ada satupun dari sila Pancasila yang hilang apalagi Sila Berketuhanan yang kemudian diubah Panitia Kecil BPUPKI yang diketuai Sukarno menjadi sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sukarno menjelaskan bahwa fakta rakyat Indonesia yang religius diletakkan sebagai alasan utama saat berpidato 1 Juni 1945. Bahkan, dia menegaskan bahwa setiap rakyat harus berketuhanan, beragama – tetapi sepatutnya dalam berelasi antar umat (yg berbeda agama) berdasar perikemanusiaan, tidak egois, merasa paling benar alias berkebudayaan.

Demikian juga saat menjelaskan Gotong Royong, maka 5 konsep Pancasila yang menjadi jiwa dari Gotong Royong. Adanya sila Ketuhanan Yang Maha Esa itulah yang menjadi alasan mengapa Sukarno menyebut Pancasila sebagai ideologi Nasionalisme Religius, yang membedakan dengan Nasionalisme-Nasionalisme lain yang berasas sekuler.

Hal ini menegaskan bahwa konsep kebahagiaan bangsa Indonesia akan selalu berelasi dengan sang Pencipta sebagai subyek untuk kembali setelah mati. Tindakan-tindakan mulia sebagaimana di 5 sila Pancasila bisa menjadi indikator kebahagiaan masyarakat Indonesia.

Pengarusutamaan Gotong Royong

Pelembagaan Pancasila/ gotong royong harus dilakukan di semua lini jika kita berkehendak menciptakan masyarakat yang jiwanya bahagia. Ini pemaknaan ulang dari pendekatan pembangunan yang berpusat pada manusia (people centered development) yang multi dimensional berdasar perspektif Pancasila.

Dari World Happiness Report 2020, Indonesia mendapat nilai 5.29 point, di bawah rata-rata dunia yang bernilai 5.48 point (skala 0-10). Indeks yang mengolah angka persepsi masyarakat terkait kualitas hidup saat ini menempatkan Indonesia pada posisi rendah (ranking 84 dari 150). Masyarakat kita merasa belum bahagia karena memang alat pengukurannya menghilangkan dimensi spiritual.

Di Indonesia, BPS memperluas indikator-indikator indeks kebahagiaan dengan memasukkan faktor perasaan dan makna hidup. Hasil survei tahun 2017 menunjukkan orang Indonesia cukup bahagia dengan indeks sebesar 70,69 pada skala 0-100.

BPS sebenarnya sudah melakukan riset terkait Modal Sosial (gotong royong dan toleransi) pada tahun 2006, 2009, dan 2012. Ini bisa disempurnakan untuk mengukur kemajuan pembangunan nasional dalam mewujudkan kebahagiaan warga. Fokus riset bisa dikembangkan pada tindakan-tindakan konkrit dari sila per sila Pancasila.

BPS misalnya bisa mengukur kontribusi warga dalam bergotong royong, menjalankan toleransi beragama, menolong tetangga yang miskin, keaktifan dalam koperasi dan lain-lain. Pemerintah pusat dan daerah kelak sepatutnya juga diawasi apakah pembuatan program dan kebijakan sudah memfasilitasi dan mendorong gotong royong.

Pengadilan misalnya, saatnya mempraktekkan keadilan sosial dan perikemanusiaan daripada sekedar hukum positif yang mengakomodasi logika kalah-menang. DPR juga saatnya mengembangkan check list pengintegrasian perspektif Pancasila/gotong royong sebagai amanat revisi UU no 12/2011 yang menyatakan Pancasila sumber segala hukum di Indonesia.

Pengarusutamaan Pancasila/Gotong Royong sudah dipraktekkan di banyak sekolah. SMP Pawyatan Daha 1 Kediri misalnya menyusun silabus dan RPP (Rencana Program Pembelajaran) dari pengintegrasian nilai-nilai Pancasila ke dalam kurikulum (semua mata pelajaran). SMK Bakti Karya Parigi Pangandaran dan Sekolah Iskandar Muda Medan juga berhasil melaksanakan pendekatan multikuktur dalam tata kelola sekolah mereka.

Propinsi Jawa Tengah telah sukses melembagakan gotong royong dalam program pengentasan kemiskinan maupun dalam menaklukkan pandemi melalui Kebijakan Jogo Tonggo (Jaga Tetangga). Di Bali, satgas anti covid 19 menggunakan starategi gotong royong berbasis desa adat telah mampu menangkal penyebaran virus corona secara efektif.

Akhirnya, jika kita berkehendak mewujudkan Indonesia Bahagia maka Arusutamakan (mainstramingkan) gotong royong/ Pancasila ke dalam tatapemerintahan (governance) di semua lini kehidupan.