Komisaris Utama PTPN IX, Muhammad Syarkawi Rauf. (wikidpr.org)

THREECHANNEL.CO – Komisaris Utama PTPN IX, Muhammad Syarkawi Rauf yang baru saja dipercaya oleh Menteri BUMN Erick Thohir, belum lama ini berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lantaran tersangkut kasus suap distribusi gula. Kasus ini terjadi saat Muhammad Syarkawi Rauf masih menjabat sebagai Ketua Komisi Persaingan Usaha (KPPU) sekaligus Komisaris PTPN VI.

Saat pihak-pihak terkait dalam kasus suap distribusi gula ini divonis bersalah, Muhammad Syarkawi Rauf justru mendapatkan jatah sebagai Komisaris Utama PTPN IX dari Menteri BUMN Erick Thohir. Pengangkatan Muhammad Syarkawi Rauf tertuang dalam SK-190/MBU/06/2020 tanggal 5 Juni 2020.

Muhammad Syarkawi Rauf disebut KPK menerima uang Rp 1,966 Miliar dari Pengusaha Pieko Njotosetiadi terkait Long Term Contract (LTC) atau Kontrak Jangka Panjang pembelian gula kristal putih. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK saat itu yang kini menjabat sebagai Juru Bicara (Jubir) KPK, Ali Fikri di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (25/11/2019).

“Untuk menghindari kesan adanya praktik monopoli perdagangan melalui sistem LTC oleh perusahaannya, Pieko Njotosetiadi juga meminta Komisaris Utama PTPN VI dan mantan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (PKPU) Muhammad Syarkawi Rauf untuk membuat kajian di mana untuk itu Terdakwa telah memberikan uang kepada Muhammad Syarkawi Rauf seluruhnya sebesar 190.300 Dollar Singapura atau setara Rp 1,966 miliar yang diberikan dalam dua tahap,” ujar Ali Fikri. (sumber)

Dijelaskannya, uang tersebut diterima Muhammad Syarkawi Rauf dalam dua tahap. Pada tahap pertama tanggal 2 Agustus 2019, Pieko Njotosetiadi menyerahkan uang 50.000 Dollar Singapura atau setara Rp 516,5 Juta kepada Muhammad Syarkawi Rauf di Hotel Santika Jakarta Selatan. Sedangkan tahap ke-dua tanggal 29 Agustus 2019 diserahkan oleh I Kadek Kertha Laksana selaku Direktur Pemasaran PTPN III kala itu sebesar 140.300 Dollar Singapura atau senilai Rp 1,45 Miliar di Agro Plaza Setiabudi, Kuningan, Jakarta Selatan.

Selain kepada Muhammad Syarkawi Rauf, Pieko Njotosetiadi juga memberikan uang kepada Direktur Utama PTPN III, Dolly Parlagutan Pulungan. Suap diberikan berupa uang tunai 345.000 Dollar Singapura atau Rp 3,55 Miliar melalui I Kadek Kertha Laksana. Keduanya dianggap berjasa (kongkalikong) telah memberikan persetujuan Kontrak Jangka Panjang kepada Pieko Njotosetiadi atas pembelian gula kristal putih yang diproduksi petani gula dan PTPN seluruh Indonesia yang distribusi pemasarannya dikoordinir PTPN III (Persero) selaku Holding Perkebunan Nusantara.

Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta akhirnya memvonis Dirut PT Fajar Mulia Transindo merangkap Komisaris PT Citra Gemini Mulia, Pieko Njotosetiadi dengan hukuman 16 bulan penjara dan denda Rp 150 Juta atau subsider 3 bulan kurungan, Senin (3/2/2020).

Sedangkan Dolly Parlagutan Pulungan selaku Dirut PTPN III divonis 5 tahun penjara dan denda Rp 300 Juta atau subsider 5 bulan kurungan, Rabu (3/6/2020). Selain itu, Direktur Pemasaran PTPN III, I Kadek Kertha Laksana divonis 4 tahun penjara dan denda Rp 200 Juta atau subsider 2 bulan kurungan. (sumber)

Profil Muhammad Syarkawi Rauf

Muhammad Syarkawi Rauf lahir di Polmas, Sulawesi Barat pada tanggal 9 Januari 1974. Ia lulus Sarjana dari Universitas Hasanuddin pada tahun 1999, kemudian menyelesaikan pendidikan Magister dan Doktoral Ilmu Ekonomi di Universitas Indonesia pada tahun 2004 dan 2008.

Saat ini Muhammad Syarkawi Rauf masih aktif sebagai Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin. Ia juga Pernah menjabat sebagai Regional Chief PT BNI (Persero) dan menjadi Ketua KPPU, pada tahun 2018 diangkat menjadi Komisaris Utama PTPN VI dan di tahun 2020 dipercaya oleh pemegang saham menjadi Komisaris Utama PT Perkebunan Nusantara IX. (sumber)

(ham)