Ilustrasi meteran listrik. (Shutterstock)

THREECHANNEL.CO – Direktur Eksekutif Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi menilai “perang udara” antara politikus Partai Gerindra, Fadli Zon dengan Fadjroel Rachman selaku Juru Bicara Presiden (Jubir) tentang kisruh tagihan listrik sama sekali tidak mendidik. Meski demikian, hal ini menandakan ketidakbecusan PLN yang harus dibenahi ke depannya sehingga tidak lagi menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

“Dua-duanya sama-sama zonk. Yang satu dari dulunya terkenal kompor meledug, yang satu lagi nggak sadar kalau dia itu Jubir Presiden tapi bertindak seolah-olah Jubir atau Humas PLN. Padahal, biasanya pernyataan Jubir Presiden itu sebagai penyambung lidah apa yang disampaikan Presiden. Jadi, keduanya bikin rusak. Satu tukang gaduh, satu merusak citra Presiden,” ujar R Haidar Alwi, Kamis (11/6/2020).

Di satu sisi, masyarakat Indonesia memang diharapkan bersikap kritis dan cerdas agar mendapatkan solusi dari setiap permasalahan yang ada, termasuk mengenai lonjakan tagihan listrik. Di sisi lain, seharusnya PLN sedari awal memberikan sosialisasi kepada para pelanggan terkait kemungkinan terjadinya lonjakan tagihan listrik. Selain karena penggunaan yang meningkat akibat pelanggan banyak beraktivitas di rumah daripada biasanya, petugas pencatat juga tidak bisa mendatangi rumah pelanggan karena dampak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Kalau kerjanya benar, dari awal seharusnya sudah disosialisasikan kepada para pelanggan. Bukan nunggu terjadi kegaduhan, baru dijelaskan. Ini malah digoreng dulu sama Fadli Zon, Jubir Presiden berubah jadi Jubir atau Humas PLN. Jadinya makin kusut, makin kisruh dan makin gaduh. PLN itu bukannya punya Corporate Communication? Kerjaannya ngapain aja? Cuma Ongkang-ongkang kaki ngurusin absen teman-teman media doang? Digaji besar tapi kerja nggak becus. Manajemen komunikasinya amburadul,” tutur R Haidar Alwi.

Sebelumnya, Fadli Zon melalui akun Twitter-nya mengungkapkan bahwa dirinya juga dibebani tagihan listrik yang melonjak tajam, seperti yang dialami oleh sebagian besar pelanggan PLN. Fadli Zon pun mempertanyakan hal tersebut dan meminta penjelasan dari pihak PLN.

 

Layaknya Humas PLN, Fadjroel Rachman yang merupakan Jubir Presiden merespon cuitan Fadli Zon dengan memberikan penjelasan bahwa petugas PLN telah mendatangi kediaman Fadli Zon di Pondok Labu. Hasil pembacaan membuktikan tagihan normal dan memang ada kenaikan pemakaian sebesar 15% dibanding bulan sebelumnya.

 

Tidak berhenti sampai di sini, perdebatan antara keduanya berlanjut. Fadli Zon mengoreksi cuitan Fadjroel Rachman yang dinilainya memuat informasi keliru dan berjanji akan menunjukkan bukti tagihan sembari menantang PLN untuk bertemu di kawasan Bendungan Hilir (Benhil).

 

Saat ini, total pelanggan PT PLN (Persero) mencapai 70,4 juta di mana pelanggan pascabayar sebanyak 34,5 juta. Dari 34,5 juta pelanggan itu, terdapat 4,3 juta pelanggan PLN yang mengalami kenaikan tagihan. Pelanggan yang mengalami kenaikan 20% – 50% jumlahnya mencapai 2,4 juta pelanggan. Sementara pelanggan yang tagihannya mengalami kenaikan di atas 200% dialami 6% dari total pelanggan yang mengalami kenaikan tagihan. Sampai hari ini, PLN setidaknya telah menerima 65.786 pengaduan sehubungan dengan masalah tersebut.

Pada awal Juni, hampir semua pelanggan PLN ternganga melihat jumlah tagihan listrik mereka yang mengalami lonjakan berkali-kali lipat dari pemakaian biasanya. Komplain dari pelanggan bukan hanya menggema di media sosial, beberapa di antaranya bahkan sampai menggeruduk kantor PLN seperti yang terjadi di Depok, Jawa Barat pada Jumat (5/6/2020). Bahkan, di Malang, Jawa Timur, pelanggan atas nama Teguh Wuryanto yang biasanya membayar tagihan listrik tidak lebih dari Rp 2,5 Juta, kini meroket hingga Rp 20,1 Juta.

Pasangan artis Raffi Ahmad dan Nagita Slavina juga sempat mengeluhkan tagihan listriknya yang mencapai Rp 17 Juta per bulan. Tak terkecuali Penyanyi Dokter Tompi yang berteriak di Twitter karena tagihan PLN menggila tanpa ada sosialisasi terlebih dahulu. Karena kritik tersebut, Dokter Tompi sampai dicap sebagai Kampret atau Kadrun oleh netizen pendukung Pemerintah.

Menanggapi kegaduhan lonjakan tagihan listrik ini, Executive Vice President Corporate Communication & CSR PLN, I Made Suprateka memastikan tidak ada kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) untuk semua golongan. Kenaikan tagihan listrik yang dialami pelanggan rumah tangga lebih disebabkan oleh meningkatnya penggunaan masyarakat akibat adanya Pandemi Covid-19 yang membuat pelanggan lebih banyak melakukan aktivitas di rumah.

“Kami pastikan saat ini tidak ada kenaikan listrik, harga masih tetap sama dengan periode tiga bulan sebelumnya. Bahkan sejak tahun 2017 tarif listrik ini tidak pernah mengalami kenaikan,” kata I Made Suprateka melalui keterangan tertulisnya.

“Biasanya siang hari tidak ada aktivitas, saat ini kita harus bekerja dari rumah, otomatis penggunaan bertambah, misalnya untuk laptop dan pendingin ruangan,” imbuhnya.

Sementara itu, Bob Saril selaku Direktur Niaga & Manajemen Pelanggan PLN mengatakan, selama berlangsungnya PSBB, PLN tidak melakukan pencatatan meter. Sehingga tagihan bulan April menggunakan perhitungan rata-rata pemakaian 3 bulan sebelumnya. Kemudian, pada bulan April baru 47% petugas PLN melakukan pencatatan meter untuk tagihan bulan Mei akibat kebijakan PSBB masih diberlakukan di beberapa daerah.

Sedangkan pada bulan Mei untuk tagihan bulan Juni, hampir 100% dari pelanggan didatangi petugas untuk pencatatan pemakaian listrik. Sehingga tagihan rekening bulan Juni merupakan tagihan riil ditambah dengan selisih pemakaian bulan sebelumnya, yang dicatat menggunakan rata-rata tiga bulan sebelumnya.

“Penggunaan rata-rata tiga bulan, tidak lain adalah untuk mencegah penyebaran Covid-19. Penggunaan rata-rata tiga bulan ini juga menjadi standar pencatatan di seluruh dunia ketika petugas tidak dapat melakukan pencatatan meter,” ucap Bob Saril.

Demi meringankan tagihan listrik masyarakat, PLN membuat kebijakan skema perlindungan lonjakan untuk meringankan pembayaran pelanggan. Jika pada bulan Juni terjadi kenaikan tagihan lebih dari 20% akibat penagihan bulan sebelumnya menggunakan rata-rata 3 bulan terakhir.

Pelanggan berhak menerima perlindungan lonjakan dengan hanya membayar tagihan bulan Juni ditambah 40% dari selisih tagihan bulan sebelumnya saat menggunakan rata-rata pemakaian 3 bulan. Kemudian 60% sisanya dibayar 3 bulan selanjutnya dengan besaran 20% setiap bulan.

Bagi pelanggan yang ingin menyampaikan pengaduan terkait tagihan listrik, PLN mengimbau pelanggan dapat menghubungi Contact Center PLN 123 yang siap melayani 24 jam atau dengan mengunjungi kantor layanan pelanggan PLN terdekat. (ham)