Diaz Hendropriyono. (ist)

THREECHANNEL.CO – Kebijakan Menteri BUMN Erick Thohir terkait restrukturisasi besar-besaran di perusahaan pelat merah menyisakan sejumlah tanda tanya. Satu di antaranya adalah ketiadaan nama Ketua Umum PKPI, Diaz Hendropriyono dalam bursa Komisaris maupun Direksi BUMN.

Padahal, kiprah dan kemampuannya tidak kalah mentereng dengan sejumlah relawan dan politikus yang telah terlebih dahulu duduk manis di posisi tersebut. Mulai dari Fadjroel Rachman & Viktor S Sirait (Komisaris Waskita Karya), Andi Gani Nena Wea (Komisaris PP), Mustar Bonaventura (Komisaris Utama Dahana), Dedy Mawardi (Komisaris Utama PTPN XI), dan belasan nama lainnya.

Pertanyaannya, apa yang membuat “Putra Mahkota” mantan Ketua Badan Intelijen Negara (BIN), AM Hendropriyono itu seolah tersisihkan oleh Erick Thohir? Di sisi lain banyak tokoh & orang-orang dekat Erick Thohir yang rangkap jabatan dengan kompetensi meragukan di posisinya.

“Wah saya ga tau itu,” ujar SD, orang dekat Diaz Hendropriyono kepada wartawan Threechannel, Rabu (17/6/2020).

Berkaca pada periode pertama pemerintahan Jokowi, Diaz Hendropriyono yang mengomandoi organ relawan Kawan Jokowi berhasil mengamankan kursi Komisaris Telkomsel (2015) dan Staf Khusus Presiden Bidang Sosial (2016). Akan tetapi pada periode ke-dua, ia hanya mendapat jatah sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Kepemudaan.

Seperti makan gaji buta Rp 51 Juta per bulan, sepak terjang Diaz Hendropriyono di posisi ini jarang sekali terdengar publik. Dengan keahlian di bidang riset politik dan intelijen, kenapa Presiden Jokowi & Erick Thohir menyia-nyiakan talenta potensial ini?

Sementara di saat yang bersamaan, rekannya di istana, Fadjroel Rachman justru berhasil mendapatkan paket dobel. Selain Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi (Jubir), Fadjroel Rachman juga diganjar kursi Komisaris Waskita Karya, yang mana sebelumnya ia menjabat sebagai Komisaris Utama Adhi Karya. (ham)