Screenshot video viral pemukulan kucing menggunakan gagang sapu oleh pria berinisial RH di Bekasi. (Dok. Istimewa)

THREECHANNEL.CO – Komunitas pecinta hewan, Animal Defenders Indonesia (ADI) kecewa dengan penegakan hukum oleh Polres Metro Bekasi dan Kejaksaan Negeri Bekasi. Pasalnya, kasus viral pemukulan kucing sampai mati menggunakan gagang sapu yang mereka laporkan pada Februari lalu hingga saat ini tidak ada kejelasan.

Doni Herdaru Tona selaku Pendiri sekaligus Ketua Animal Defenders Indonesia mengatakan bahwa pada Kamis (25/6/2020) siang pihaknya menyambangi Mapolrestro Bekasi untuk menanyakan kelanjutan kasus tersebut. Akan tetapi, Kanit Krimsus yang menangani perkara ini tidak ada di tempat dan disarankan oleh Penyidik untuk kembali datang pada keesokan harinya.

Telepon maupun pesan WhatsApp yang sebelumnya dikirimkan Animal Defenders Indonesia, baru sudah dijawab pada Jumat (26/6/2020) pagi dengan pemberitahuan bahwa belum ada petunjuk dari Kejaksaan Negeri Bekasi.

“Untuk mengecek SP2HP online pun website sedang down, jadi kami tidak tahu perkembangan kasusnya seperti apa dan wajib mencari tahu, karena sudah sejak 18 Februari 2020 kasusnya dilaporkan dan mendapat SP2HP tanggal 27 Feb 2020. Kami akan mengejar update kasus ini, baik ke kepolisian maupun ke kejaksaan, bersama para penasihat hukum, demi kejelasan dan penegakan hukum perlindungan hewan di Indonesia,” ujar Doni Herdaru Tona dalam keterangan tertulisnya, Jumat (26/6/2020).

Berdasarkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) ke-dua tanggal 27 Februari 2020, Penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap 5 (lima) orang saksi dan 1 (satu) Tersangka berinisial HR.

“Rencana Penyidikan selanjutnya: Mengirimkan berkas perkara ke Jaksa Penuntut Umum.” Demikian tertera dalam poin 2C SP2HP yang ditandatangani Wakasat Reskrim Polrestro Bekasi, Komisaris Polisi (Kompol) Bambang S Nugroho.

Walau kecewa, Animal Defenders Indonesia masih percaya bahwa Polri serta Kejaksaan akan tetap profesional dan transparan dalam melakukan penyelidikan atau penyidikan dalam setiap kasus yang ditangani. Doni Herdaru Tona berharap, kasus ini segera mendapatkan kepastian persidangan.

SP2HP merupakan hak bagi pelapor. Dalam hal menjamin akuntabilitas dan transparansi penyelidikan/ penyidikan, penyidik wajib memberikan SP2HP kepada pihak pelapor baik diminta atau tidak diminta secara berkala. Hal ini tertuang dalam Peraturan Kapolri Nomor 12 Tahun 2009 tentang Pengawasan dan Pengendalian Penanganan Perkara Pidana di Lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia, Pasal 39 Ayat 1.

Dengan adanya transparansi penanganan perkara, masyarakat dapat menilai kinerja Kepolisian dalam menangani berbagai perkara tindak pidana yang terjadi di masyarakat.

Oleh karena itu, untuk mengetahui perkembangan proses penyidikan yang sedang berlangsung, pihak pelapor dapat mengajukan permohonan untuk dapat diberikan SP2HP kepada pihak kepolisian terkait, sebagaimana telah diatur dalam ketentuan Pasal 11 ayat (1) huruf a Perkap No. 21 Tahun 2011 juncto Pasal 12 huruf c Perkap No. 16 tahun 2010.

Dengan SP2HP inilah pelapor atau pengadu dapat memantau kinerja kepolisian dalam menangani kasusnya. Sewaktu-waktu, pelapor atau pengadu dapat juga menghubungi Penyidik untuk menanyakan perkembangan kasusnya.

Jika Penyidik menolak untuk memberikan SP2HP, maka kita dapat melaporkannya ke atasan Penyidik tersebut. Dan jika atasan Penyidik tersebut juga tidak mengindahkan laporan kita, maka kita dapat melaporkannya ke Divisi Propam Kepolisian Daerah terkait.

Sebelumnya, beredar sebuah video viral rekaman cctv aksi pembunuhan terhadap seekor kucing oleh seroang pria paruh baya. Menurut Doni Herdaru Tona, video tersebut pertama kali diunggah oleh pemilik kucing melalui akun Instagramnya.

Video berdurasi 30 detik itu dengan cepat menyebar hingga menuai kecaman dari para pecinta hewan termasuk komunitas Animal Defenders Indonesia dan Pejuang Hak Hidup Hewan (PH3).

Terlihat dalam video seorang pria paruh baya melakukan pemukulan terhadap seekor kucing yang sedang bermain di depan rumah pemiliknya. Pria paruh baya itu yang kebetulan lewat lantas mengambil sapu dan memukulkan gagangnya kepada kucing yang tidak bersalah tersebut.

Walau terkesan tidak terlalu kuat, namun pukulan itu berhasil membuat sang kucing menggelepar, sekarat dan akhirnya mati.

“Dia sangat fasih memilih titik pukul. Saya analisa mungkin dia sering melakukan aksi serupa. Logikanya, jika hanya sekadar kesal, orang tidak paham mana titik fatal. Dan setelah sekali pukul, pelaku berlalu santai, tidak emosional melanjutkan pukulannya yang bisa memancing perhatian orang lain di sekitar,” kata Doni Herdaru Tona.

Setelah mencari tahu dan mengantongi identitas pelaku, Animal Defenders Indonesia dan Pejuang Hak Hidup Hewan (PH3) berdiskusi dengan tim pengacara untuk mengambil langkah hukum agar memberi efek jera bagi pelaku.

“Karena pemilik cctv dan pemilik kucing yang dibunuh ketakutan tidak mau bersaksi. Mau sampai kapan dibiarkan aksi kejam ini? Yang jahat harus takut pada yang benar, bukan sebaliknya. Diamnya kita pada kejahatan yang terjadi, adalah andil dalam kejahatan itu sendiri. Dan, ya, kami tidak akan menerima permintaan maaf begitu saja. No way. Mudah-mudahan Senin sudah komplit dan akan kami laporkan ke Polres Bekasi,” papar Doni Herdaru Tona.

Animal Defenders Indonesia dan Pejuang Hak Hidup Hewan (PH3) lalu menyambangi Polresta Bekasi untuk melaporkan spesialis pembunuh kucing dengan gagang sapu yang videonya viral dalam beberapa hari terakhir, Senin (17/2/2020).

“Kami hari ini selesai berkonsultasi dengan siaga reskrim Polres Bekasi Kota. Mereka sangat akomodatif dan sepakat ini harus ditindak. Saya diminta membuat surat laporan kronologis dan nanti akan ditindaklanjuti dengan LP, bukan Dumas (Pengaduan Masyarakat),” ujar Pendiri sekaligus Ketua Animal Defenders Indonesia, Doni Herdaru Tona.

Ia menjelaskan, aparat kepolisian menyarankan agar Animal Defenders Indonesia dan PH3 bergerak mengamankan barang bukti ke lokasi serta persuasi pemilik supaya ikut terlibat dalam pelaporan.

“Saat ini kami menuju TKP dan hendak bertemu dengan pak RT setempat, lalu ke rumah pemilik kucing, untuk persuasi,” imbuh Doni Herdaru Tona.

Mendapat lampu hijau dari polisi, tim langsung menuju Jalan Bojong Megah, Blok F, Kota Bekasi, Jawa Barat. Akan tetapi, pemilik kucing tetap bersikukuh tidak mau bersaksi karena takut keselamatannya terancam.

Selanjutnya, Doni Herdaru Tona dan kawan-kawan meminta izin kepada Ketua RT di lingkungan tempat tinggal pelaku. Ketika sampai di rumah pelaku, tim memergoki pelaku sedang terlibat keributan dengan keluarganya hingga hampir terjadi baku-pukul.

“Tapi saat tim tiba, pelaku dan keluarga lalu meminta kami agar tidak melanjutkan kasus ini ke polisi sambil memelas. Hey, sama ibu-ibu tak berdaya bentak-bentak dan hampir pukul. Pas kami datang, langsung melas-melas? Drama apa ini?” Kata Doni Herdaru Tona.

“Karena merasa tidak ada penyesalan dari dalam hati, dan upaya defensif sangat terlihat, kami tetap akan melaporkan kasus ini agar menjadi efek jera. Beberapa warga setempat pun memberikan dukungannya untuk diberikan efek jera, mereka takut kucingnya jadi korban pelaku di kemudian hari,” ucapnya.

Pihaknya menegaskan akan kembali ke Polresta Bekasi pada Selasa (18/2/2020) untuk melengkapi berkas-berkas yang diminta aparat kepolisian. Doni Herdaru Tona meminta agar masyarakat khususnya pecinta hewan untuk sama-sama mengawal kasus ini sampai selesai. Selain memberikan efek jera bagi pelaku, juga menjadi pembelajaran bagi yang lainnya untuk tidak berbuat hal serupa.

Pada Selasa (18/2/2020), Polrestro Bekasi menerima laporan Animal Defenders Indonesia dengan nomor LP/417/K/II/2020/SPKT/Restro Bekasi Kota. Polisi pun bergerak cepat dan melakukan penangkapan terhadap Pelaku yang belakangan diketahui berprofesi sebagai sopir angkot. Setelah mengumpulkan bukti-bukti dan memerika saksi-saksi, Pelaku akhirnya ditetapkan sebagai Tersangka. (ham)