Ketua Umum Forum Guru Independen Indonesia (FGII), Tety Sulastri

THREECHANNEL.CO – Dalam situasi Jakarta Tanggap darurat bencana covid 19 dan kebijakan-kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah pusat secara khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Hal demikian menyebabkan banyak sekolah swasta akan menghadapi kesulitan tersendiri dalam menggaji tenaga pendidik dan para stafnya.

Nasib buruk akan dirasaka para pekerja non formal yang terancam kehilangan penghasilannya. Sehingga saat ini mereka fokus untuk kebutuhan makan keluarganya, bukan untuk bayar uang sekolah putra-putri mereka yg disekolahkan di sekolah-sekolah swasta.

Dengan demikian memberikan imbas kepada guru-guru di sekolah swasta yang terancam tidak mendapatkan bayarannya jika para orang tua siswa tidak mampu membayar SPP sekolah.

Ketua Umum Forum Guru Independen Indonesia (FGII), Tety Sulastri menyikapi hal tersebut seraya menyampaikan masukan kepada Kemendikbud agar segera dibuatkan kebijakan terkait dampak buruk yang dirasakan para guru swasta.

“Kemendikbud bisa segera untuk mengambil kebijakan terkait hak-hak guru untuk percepatan realisasi anggaran bos, tunjangan profesi guru bukan saja guru Swasta tetapi guru-guru ASN sekolah swasta pastikan lebih membutuhkan karena dari situ sumbernya.” Ujar Ketua Umum Forum Guru Independen Indonesia (FGII), Tety Sulastri kepada threechannel pada Selasa, (24/3/2020).

Tety melanjutkan, Kemendikbud harus mengubah juknis pengggunaan dana BOS, agar dapat digunakan 100% untuk honor para guru yg mengajar di sekolah swasta, serta tunjangan sertifikasi guru harus dipercepat.

Terkait penyebaran wabah virus Corona, Tety merasa prihatin pada pemerintah dengan adanya wabah ini, akan tetapi ada ancaman ekonomi yang sudah mulai tampak.

Bedasarkan Surat Edaran mentri nomor 4 tahun 2O2O tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran Corona Virus (COVID- 1 9) yang menghimbau kepada sekolah untuk melakukan pembelajaran jarak jauh. Hal tersebut dirasa tidak difocuskan pada pencapaian nilai tetapi bagaimana pembelajaran yang survive, bertahan hidup.

“Kita mengajarkan anak2 untuk survive, tetapi gurunya tidak mampu bertahan hidup.” pungkas Tety.