Tak terkecuali dengan Ahli Sejarah Betawi yang kini ber-evolusi sebagai pembela elite politik. Ketimbang meluruskan atau mempertahankan kearifan sejarah dan budaya lokal, nyatanya mereka lebih sering tampil dalam panggung perpolitikan, yang notabene bukan pada habitatnya.

Entah karena diberi makan dari dana hibah melalui APBD atau memang tidak menyadari telah menyimpang dari esensinya. Para elite politik yang menyadari bahwa Ormas Betawi merupakan sebuah gerakan massa yang berkekuatan besar, melihat hal ini sebagai sebuah peluang. Mungkin dalam pikirannya, selama diberi makan maka mereka akan patuh kepada tuannya.

Bukan rahasia lagi, saat pembahasan APBD DKI Jakarta 2020, sempat terjadi polemik tentang munculnya anggaran senilai Rp 6 Milliar untuk dihibahkan kepada Ormas Betawi. Walau kemudian dihilangkan untuk sementara waktu, Ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetyo Edi Marsudi memastikan bahwa anggaran tersebut akan dimasukkan dalam APBD Perubahan.

Sebetulnya, tahun-tahun sebelumnya Ormas Betawi juga mendapatkan dana hibah dari Pemda DKI Jakarta. Tidak heran bila mereka begitu mengagung-agungkan gerombolan elite Kebon Sirih. Segala kebijakan maupun tindak-tanduk Balaikota, bagi mereka adalah suatu kebenaran mutlak yang wajib dibela meski harus berdarah-darah.

Tatkala Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dikritik mengenai banjir, bongkar-pasang trotoar, proyek revitalisasi Monas dan Formula-E, Ormas Betawi menjadi jawara yang berada di garda terdepan melindungi tokoh panutannya. Lihat saja, ketika sebuah kelompok massa menggelar aksi unjuk rasa untuk menyampaikan aspirasi terkait kinerja Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Ormas Betawi seketika menjelma menjadi petugas keamanan yang diberi ruang istimewa di Balaikota. Bahkan, Sekjen salah satu Ormas Betawi saat itu dengan tegas dan jelas mengatakan bahwa mereka bertugas melindungi Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dari massa yang berdemo. Padahal, menyampaikan pendapat di muka umum telah diatur dan dijamin oleh konstitusi. Akan tetapi, mereka menilai tak ada yang boleh menyalahkan Anies Baswedan, bahkan mungkin Tuhan sekalipun akan dilarang.

Baru-baru ini, tepatnya pada Rabu (11/3/2020), Biro Umum Setda Provinsi DKI Jakarta berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup meluncurkan sebuah program yang seharusnya menjadi tamparan keras bagi ormas titisan sang jawara. Program tersebut adalah terkait penanganan sampah di lingkungan Balaikota dengan sebutan “Bank Sampah”.

Pegawai Pemprov DKI Jakarta yang berkantor di Kebon Sirih dapat membawa sampah anorganik dari rumahnya atau dari ruang kerjanya untuk dikumpulkan oleh petugas dan disetorkan ke Bank Sampah. Mereka yang telah menyetorkan sampahnya, akan dibuatkan buku tabungan khusus. Hingga Januari 2020, total Bank Sampah yang ada di seluruh wilayah DKI Jakarta mencapai 2.226 dengan jumlah nasabah sekitar 140.000 orang.

Sekilas tidak ada yang aneh dengan kebijakan Anies Baswedan dan jajarannya. Malahan, program tersebut memiliki manfaat lingkungan dan ekonomis. Akan tetapi bila dicermati lebih jauh, terdapat suatu ketidakpantasan yang sangat keterlaluan.

Bagaimana tidak? Penamaan Bank Sampah Anies Baswedan memakai nama legenda yang paling diagung-agungkan se-antero Tanah Betawi. Si Pitung, demikian Bank Sampah ini disebut. Terlepas dari nyata atau tidaknya sosok sang jawara, sesungguhnya Si Pitung telah menjadi pahlawan yang menyatu dalam diri Orang Betawi.

Walaupun Si Pitung dalam program Pemda DKI merupakan akronim dari “Bersih, Pilah dan Untung”, penamaan sosok yang sangat dihormati itu pada suatu hal yang berkaitan dengan sampah sesungguhnya adalah bentuk penghinaan yang nyata di depan mata. Bukan saja penghinaan terhadap sang pendekar, keluarga maupun ahli warisnya, tapi juga penghinaan terhadap Orang Betawi serta sejarah itu sendiri.

Memang, tidak banyak yang menyadari bentuk penghinaan tersebut. Mungkin karena sosok Si Pitung telah buram dalam ingatan, atau mungkin fanatisme serta penghambaan terhadap Anies Baswedan telah mengalahkan akal sehat dan budi pekerti. 

Kita tunggu saja, apakah para Ahli Sejarah Betawi, Budayawan Betawi dan Ormas Betawi akan bereaksi keras terhadap penghinaan tersebut atau tidak. Jika tidak, berarti kecintaan terhadap Anies Baswedan telah menghamba membutakan akal dan budi mereka. Akankah keagungan Si Pitung Sang Legenda Betawi berakhir dalam kotornya Bank Sampah Anies Baswedan??? Mudah-mudahan tidak, jangan sampai! Jangan biarkan itu terjadi!!! (HAI)