Ilustrasi kuda troya. (ist)

TAJUK OPINI

KUDA TROYA SBY SEDANG “MEMBANTAI” JOKOWI DI DALAM ISTANA

Oleh : Aznil Tan

THREECHANNEL.CO – Bukan sosok yang hebat diri SBY kalau bukan  sosok yang bisa jadi Presiden RI selama 2 periode. Masih banyak yang meremehkan kepiawaian mantan Kepala Staf Teritorial (Kaster) TNI ini dengan  menganggap dia bisa menjadi orang nomor satu di republik ini karena faktor keberuntungan.

Para filosof sering mengatakan “didalam politik itu tidak ada yg kebetulan, semuanya by design”.

Begitu juga  ketika kehadiran sosok SBY. Dia bukan hadir secara kebetulan.

Dalam kondisi sulit  pada Pilpres 2004, dia mampu menjadi presiden RI mengalahkan Megawati melawan incumbent dan sosok yang sangat berpengaruh. Sementara kala itu dia cuma seorang menteri bawahan Megawati, yaitu sebagai Menkopolhukam dan baru memiliki partai yang pertama kali mengikuti pemilihan umum pada tahun 2004 yang hanya meraih suara sebanyak 7,45%.

Sekarang ketika paska presiden RI, apakah SBY duduk manis menikmati masa pensiunannya? Jawabnya : Tentu, tidak !

Syahwat untuk kembali berkuasa masih tinggi. Pria kelahiran 9 September 1949 ini di pemilu 2024 nanti masih berumur 75 tahun. Sebuah umur tidak tua-tua amat kembali jadi presiden dibandingkan Mahathir Mohamad  yang bisa kembali menjadi Perdana Menteri Malaysia diusia 92 tahun.

Sebagai mantan Kaster TNI dan seorang bergelar Doktor, dia memahami strategi dan karakter masyarakat Indonesia. Dia adalah seorang pengangung perfeksionis. Sosok yang tenang tapi menghanyutkan. SBY menyusun barisannya dengan rapi dan tertib.

Analisa saya, SBY sedang menjalankan sebuah operasi senyap yang mematikan.  Yaitu muslihat Kuda Troya. Sebuah muslihat memasukkan orang-orangnya ke dalam istana untuk “membantai” Jokowi dari dalam.

Bagi SBY legenda Kuda Troya zaman Yunani bukan sekedar dongeng. Mitologi itu menginspirasi dirinya dalam kancah dunia persilatan politik.

Alkisah pada abad 13 SM , sebuah kota Troya selama 10 tahun dikepung oleh Yunani tetapi selalu gagal. Timbullah ide oleh panglima perang Yunani bernama Odysseus membuat sebuah tipu muslihat untuk menaklukkan benteng kota Troya yang kokoh dan sulit ditembus.

Odysseus lalu membangun patung kuda kayu raksasa yang di dalamnya berongga dan bisa diisi sepasukan tentara Yunani.  Pada pagi hari, orang-orang Troya tidak lagi melihat pasukan Yunani, mereka lantas mengira Yunani telah menyerah. Mereka hanya melihat patung kuda raksasa tergeletak tidak jauh dari benteng Troya.

Dibuatlah skenario, Sinon ditugaskan untuk mengelabui tentara Troya untuk keluar. Dia mengatakan bahwa dirinya adalah calon korban bagi Athena yang marah karena Palladium dicuri. Lalu dia kemudian melarikan diri pada malam hari dan tidak mau lagi menjadi orang Yunani.

Dengan tipu licik, Sinon berkisah bahwa kuda kayu raksasa tersebut adalah persembahan kepada dewa Athena yang hendak dibakar oleh Yunani. Apabila dihancurkan oleh pihak Troya maka kemarahan dewa Athena akan berbalik kepada Troya.

Mendengar itu, orang-orang Troya tidak menghancurkan atau membakarnya melainkan mengangkut kuda raksasa beroda tersebut ke dalam kota. 

Ketika semua penduduk sudah terlelap pada malam hari, pasukan Yunani keluar dari dalam patung, membuka pintu gerbang kota, dan balatentara Yunani yang ternyata hanya bersembunyi di sebuah pulau, mengalir masuk ke dalam kota. Malam itu kota dibakar, penduduknya dibantai, dan Troya dihapus dari muka bumi.

Kisah Kuda Troya hampir persis sedang terjadi pada diri Jokowi saat sekarang.  Masuknya orang-orang SBY ke istana kuat diduga untuk “membantai” Jokowi dari dalam seperti legenda Kuda Troya.

Kisah ini dimulai dengan memasukkan Moeldoko kedalam istana yang diduga berperan sebagai Odysseus. Mantan panglima TNI yang kaya raya di era SBY ini berpura-pura berkhianat kepada SBY. Lalu ada berapa orang Pembisik Jokowi yang tamak dan rakus berperan sebagai Sinon sang pembohong bahwa Moeldoko seorang prajurit bisa dipercaya dan siap pasang badan untuk Jokowi menghadapi oposisi dan menangkis isu radikalisme yang sedang lagi marak. Tak lupa Pembisik bayaran tersebut membisikkan bumbu strategi Sun Tzu, yaitu “menyandera lawan dari dalam.”

Lalu diaturlah timingnya pada waktu pernikahan Kahiyang Ayu dengan Bobby di Graha Saba Buana pada tanggal 8 November 2017. Moeldoko secara misterius diplot sebagai perwakilan keluarga Jokowi memberi kata sambutan dengan pidatonya “Istana Hati” ditengah para dedengkot Jokower hadir pada saat itu.

Jokowi pun terpesona dengan tipu daya tersebut. Pada tanggal 17 Januari 2018, Moeldoko yang pernah menjadi panglima TNI semasa pemerintahan SBY tiba-tiba secara mengejutkan ditunjuk oleh Jokowi sebagai Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) mengantikan Teten Masduki.

Dari sinilah petaka dimulai. 

KSP yang seharusnya diisi oleh “All President Man” sebagai mata telingga Jokowi mengawal program-program prioritas nasional tetapi Jokowi begitu ceroboh mempercayakan kepada musuh. Para Jokower yang setia dari awal dan berperan besar dalam kemenangan Jokowi terpaksa mengurut dada atas masuknya Moedoko menempati posisi tersebut. Sejak itu hubungan batin relawan dengan Jokowi mulai terhambat secara pelan-pelan, kecuali relawan yang dimanfaatkan oleh Moeldoko untuk “didagangkan”.

Moeldoko yang sudah berhasil masuk ke dalam istana lalu membuka pintu gerbang istana untuk memasukkan bala tentara SBY yang sedang tidak sabaran menunggu di seberang istana.  Meski waktu masih senja hari, hal itu tidak membuat kecurigaan para penjaga istana. Para relawan pun menganggap hal tersebut wajar-wajar saja sebagai hak prerogatif presiden. Apalagi beberapa relawan  berhalusinasi sedang diproses sebagai daftar komisaris dan berbagai posisi jabatan lainnya yang dihembuskan oleh para pasukan Moedoko. 

PEMBANTAIAN DIMULAI

Ada 3 misi Kuda Troya masuk Istana yang kuat diduga sedang dioperasikan :

  1. Menggagalkan program-program prioritas nasional Jokowi agar menjadi mangkrak dan kacau. Bahwa pencitraan Jokowi sebagai  sang presiden eksekutor yang gila kerja menjadi terbalik. Opini publik menilai bahwa Jokowi adalah pembohong dan lebih buruk dari pemerintahan sebelumnya serta tidak produktif dan hanya menambah hutang negara. Targetnya SBY adalah dia dikenang rakyat sebagai presiden terbaik dimiliki oleh Indonesia yang bisa membangun pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,5% dibandingkan Jokowi yang hanya 5%.
  2. Menyelamatkan SBY dan kroni-kroninya dari kasus skandal korupsi yang marak terjadi di semua lini semasa pemerintahan SBY selama 10 tahun. Targetnya agar kasus korupsi tidak terungkap dan Jokowi dituding sebagai pelakunya.
  3. Membuat kejahatan dari dalam  sehingga publik menyalahkan Jokowi sebagai sosok presiden yang tidak baik dan lebih busuk. Targetnya adalah publik membenci Jokowi dan pemerintahan Jokowi goyang serta mengalami krisis kepercayaan rakyat.

Untuk melaksanakan misi pertama, Moeldoko sebagai Kepala KSP bertugas melakukan pelemahan pada program Nawa Cita (sekarang Program  Indonesia Maju) yang sedang diharapkan rakyat terjadi perubahan pada nasibnya. Tugas KSP sebagai tangan kanan Jokowi dalam pengendalian Program-program Priotas Nasional dibawah kepemimpinan Moeldoko tidak berfungsi dan malah dijadikan alat bermain kebusukan ditengah kebusukan. Terbukti Jokowi sering mengalami kelabakan dan kekecewaan berat tidak terlaksananya program-program yang ia perintahkan.

Penyelesaian konflik agraria yang ditangani oleh KSP nyaris tidak ada titik penyelesaiannya. Ganti lahan tanah masyarakat yang dipakai untuk pembangunan proyek infrastruktur terjadi permasalahan dimana-mana. Pembangunan kilang minyak mangkrak. Penetapan harga gas yang standar bebas mafia belum juga terkendali. Begitu juga berbagai program-program lainnya yang membuat Jokowi mulai marah.

Untuk melaksanakan misi kedua, Moeldoko memasukan Harry Prasetyo mantan direktur keuangan Jiwasraya ke dalam patung kuda Troya yang ikut masuk ke dalam istana. Dia sebenarnya dipersiapkan sebagai martir dalam melaksanakan misi SBY yang dia sendiri tidak sadar atas raja teganya menumbalkan dirinya.

SBY sadar bahwa pada tahun 2019 akan menjadi  tahun bencana bagi dirinya beserta kroninya jika tidak diantisipasi dari dini. Beberapa perusahaan asuransi plat merah yang sudah mereka rampok keuangannya akan mengalami kebangkrutan dahsyat.

2019 adalah tahun jatuh tempo pembayaran para pemegang polis asuransi Jiwasraya yang nilainya mencapai hingga Rp 13,74 triliun. Begitu juga asuransi ASABRI yang nilainya mencapai hingga Rp 16 triliun.

Selama ini kebusukan perampokan uang Jiwasraya dan Asabri dengan menyulap laporan keuangannya agar terlihat sehat.  Sedangkan perampokan tersebut sudah lama berlangsung sejak 2006.

Dari revaluasi asset diketahui bahwa PT Jiwasraya tidak ada lagi punya cash flow karena duitnya sudah habis dirampok yang kuat diduga digarong para gerombolan SBY bersama koruptor lainnya  berpesta-pora pamer kemewahan dan menumpuk harta kekayaan.

Untuk mengantisipasi ledakan bom waktu Jiwasraya dan Asabri tersebut maka dimasukkan lah Harry Prasetyo kedalam istana dengan status sebagai Tenaga Ahli Utama KSP.

Ketika terbongkarnya kasus Jiwasraya dan Asabri yang membuat rakyat goncang lalu publik ramai-ramai menuding Jokowi pelakunya. Jokowi dianggap mengunakan Harry Prasetyo sebagai orang istana untuk merampok uang Jiwasraya untuk biaya pemilu.

Agar operasi terlihat alami, Moeldoko melakukan klarifikasi bahwa dia kecolongan merekrut Harry Prasetyo dan tidak melindunginya. Sedangkan Harry Prasetyo itu adalah bagian dari by design yang dipersiapkan sebagai tumbal dalam operasi Kuda Troya SBY.

SBY pun tak kalah gesit lalu menyambar kasus ini dengan membuat rilis bahwa ada dana Jiwasraya mengalir ke istana pada pemilu 2019. Seperti biasa, SBY berlagak orang bijak dan komprehensif melihat permasalahan. SBY menulis pesan di akun  Facebooknya, Tak perlu ada gerakan atau teriakan “turunkan Jokowi”. Sekarang Demokrat bersama PKS meminta diadakan Pansus di DPR.

Operasi Kuda Troya tidak sampai disitu saja. Untuk melaksanakan misi ketiga, sekarang Moeldoko sedang membuka gembok pintu istana selebar-lebarnya buat orang-orang SBY untuk masuk kedalam istana.

Tanpa ada nomenklatur diatur dalam Perpres No. 83 tahun 2019, Moeldoko membentuk 13 Penasihat KSP untuk memasukan orang-orang tangan kanan SBY, seperti Kuntoro, Purnomo dan beberapa orang lainnya. (Silahkan baca : Jokowi Kecolongan Lagi, Moeldoko Angkat Kroni SBY dan Orang Bermasalah Masuk Lingkaran Istana)

BERSIH-BERSIH

Ini adalah sebuah muslihat yang sangat licik dan sangat mematikan. Jokowi pun seperti terrsandera. Cita-cita Indonesia Maju yang ditunggu oleh rakyat terancam sedang dijegal. Relawan pun sudah mulai terpecah. Partai politik pengusung Jokowi seperti saling jegal-jegalan .

Secara hukum kasus Kuda Troya ini sulit dijadikan sebuah konspirasi kejahatan untuk diseret ke ranah hukum sebagai tindakan upaya kudeta. Ini harus dilawan dengan cara politik.  

Pertama-tama kepada Jokowi harus dulu sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa dia sedang “dibantai” oleh para penyelusup SBY masuk ke istana. Jokowi tidak boleh lurus-lurus saja memandang permainan politik di Indonesia. Menganggap orang sekitarnya adalah orang-oran yang mempunyai itikad baik untuk memajukan Indonesia. 

Para relawan Jokowi harus solid dan jangan terlena dengan sosok Moeldoko sebagai kepala KSP. Relawan harus kembali pada jati dirinya bahwa relawan itu adalah pendukung Jokowi bukan pendukung sosok lain.

Relawan harus mengingatkan Jokowi bahwa  KSP itu harus diisi oleh Jokower sejati seperti West Wing di USA yang dikuasai sepenuhnya oleh All President Man bukan para penyelusup dan penumpang gelap. Relawan lah yang sesungguhnya memiliki passion dan idealis untuk mengawal Indonesia Maju bukanlah orang lain.

Para partai politik pengusung Jokowi pun jangan berlagak seperti tidak mengerti muslihat Kuda Troya dimainkan oleh SBY tersebut. Para partai politik tidak boleh membiarkan upaya “pembantaian” Jokowi dari dalam. Parpol pengusung Jokowi-Ma’ruf Amin harus segera bergerak menyelamatkan Visi Indonesia Maju yang sedang terancam digembosi.

Parpol dan Relawan bersama Jokowi untuk segera melakukan aksi bersih-bersih istana dari para penyelusup sebelum menjadi prahara melanda Indonesia.

Jangan abaikan analisis ini !  

Terimakasih.

Jakarta, 10 Februari 2020

Penulis adalah Direktur Eksekutif INFUDS (Indonesian Future Development Study) dan Koordinator Nasional Poros Benhil.