THREECHANNEL.CO – Masih ingatkah anda dengan insiden Megawati Soekarnoputri mengabaikan jabatan tangan Surya Paloh saat pelantikan pimpinan DPR RI pada Selasa (1/10/2019) silam? 

Terlepas dari disengaja atau tidaknya, insiden tersebut kemudian menjadi sorotan. Bukan hanya karena dilakoni oleh dua petinggi partai politik, tapi juga karena dipertontonkan di depan publik ketika agenda kenegaraan.

Rupanya insiden seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan ditampilkan pula oleh dua tokoh sentral negara adidaya Amerika Serikat baru-baru ini.

Adalah Presiden AS Donald Trump mengabaikan uluran tangan Ketua DPR AS Nancy Pelosi sesaat sebelum menyampaikan pidato kenegaraan bertajuk “State of the Union” pada Selasa (4/2/2020) malam.

Dikutip dari dailymail, insiden berawal ketika Donald Trump maju ke podium dan menyerahkan salinan naskah pidatonya. Saat itu, Nancy Pelosi tampak terlebih dahulu menyodorkannya tangannya untuk bersalaman dengan Donald Trump.

Namun, Donald Trump hanya menyerahkan salinan pidatonya saja. Setelah salinan pidato tersebut diterima oleh Nancy Pelosi, Ketua DPR AS itu kembali menyodorkan tangannya untuk menyalami Donald Trump. Upayanya itu lagi-lagi diabaikan oleh Donald Trump yang langsung berbalik, menarik napas dan bersiap memulai pidatonya.

Momen Presiden AS Donald Trump mengabaikan jabatan tangan Ketua DPR AS Nancy Pelosi untuk bersalaman, Selasa (4/2/2020). (dailymail)

Entah apa maksud Donald Trump, apakah karena ia benar-benar tidak melihat tangan yang disodorkan Nancy Pelosi atau ia memang sengaja mengacuhkannya. Yang jelas, pemandangan ini spontan menarik mata para hadirin termasuk media.

Selama Donald Trump berorasi di podium, Nancy Pelosi berkali-kali menatap lembaran salinan pidato Donald Trump yang dipegangnya. Sesekali ia mengalihkan pandangan lalu kembali melihat ke arah salinan pidato tersebut.

Raut muka yang pada awalnya dihiasi senyuman mendadak berubah setelah Nancy Pelosi membaca dan mendengarkan pidato Donald Trump.

“Musuh Amerika sedang dalam pelarian, kekayaan Amerika sedang meningkat dan masa depan Amerika sangat cerah,” ujar Donald Trump.

“Hanya dalam tiga tahun yang singkat, kami telah menghancurkan mentalitas kemerosotan Amerika dan kami telah menolak takdir yang tidak berpihak pada Amerika. Kami bergerak maju dengan kecepatan yang tak terbayangkan beberapa waktu lalu, dan kami tidak akan pernah kembali,” imbuhnya.

“Kami akan selalu melindungi jaminan kesehatan anda, dan kami akan selalu melindungi jaminan sosial anda. Selalu,” papar Donald Trump.

Mendengar kalimat terakhir Donald Trump dalam kutipan di atas, Nancy Pelosi lantas menggeleng-gelengkan kepalanya. Bagaimana tidak, aturan mengenai jaminan kesehatan dan jaminan sosial merupakan bagian dari ObamaCare, sebuah program yang digagas oleh Barrack Obama ketika menjabat sebagai Presiden AS dua periode. Kini, keberhasilan program tersebut diklaim oleh Donal Trump.

Selain itu, dalam pidatonya Donald Trump juga mengklaim telah berhasil memenangkan peperangan di Timur Tengah dan mengamankan perbatasan Selatan Amerika Serikat yang menurutnya belum pernah dicapai oleh Presiden sebelumnya.

Setelah Donald Trump mengakhiri pidatonya, Nancy Pelosi yang berdiri di belakangnya terlihat merobek salinan pidato tersebut dan kemudian membuangnya.

“Saya merobeknya,” Nancy Pelosi mengakui.

“Itu adalah hal yang layak dilakukan mengingat pidato (Donald Trump) yang sangat kotor,” imbuhnya.

Sebagai informasi, pidato kenegaraan ini disampaikan untuk meningkatkan kampanye Donald Trump jelang pemilihan Presiden AS tahun 2020.

Rencananya Senat akan melakukan pemungutan suara pada Rabu (5/2/2020) untuk menentukan nasib Donald Trump atas tuduhan penyalahgunaan kekuasaan. Trump dimakzulkan pada 18 Desember 2019 oleh Dewan Perwakilan. Ia menjadi presiden AS ke-tiga yang menjalani proses pemakzulan setelah Andrew Johnson (1868) dan Bill Clinton (1999).

Donald Trump juga diduga berupaya menghalangi Kongres. Selain itu, ia disebut-sebut telah dengan sengaja menahan bantuan pertahanan untuk Ukraina sebesar US$391 juta pada Juli hingga September 2019. Donald Trump juga dituduh menghalangi mongres dengan tidak memberikan akses dokumen kepada panitia khusus. Ia memerintahkan orang-orang yang dipanggil DPR untuk tidak hadir.