Kerusuhan dan pembakaran Rutan Kelas 2B Kabanjahe, Karo, Sumatera Utara, Rabu (12/2/2020). (ist)

THREECHANNEL.CO – Ketua Umum DPN Gepenta (Gerakan Nasional Peduli Anti Narkoba, Tawuran & Anarkis), Brigjen Pol (Purn) DR Parasian Simanungkalit menyampaikan keprihatinannya atas insiden keributan tahanan narkoba yang berujung pembakaran Rutan Kelas 2B Kabanjahe, Karo, Sumatera Utara, Rabu (12/2/2020).

Brigjen Pol (Purn) DR Parasian Simanungkalit mengatakan bahwa saat ini jumlah penghuni rutan maupun lapas terus mengalami peningkatan hingga mencapai 240 ribu orang. Dari jumlah sebanyak itu, sebagian besar di antarannya adalah tahanan dan narapidana kasus narkoba.

Terlepas dari apapun penyebabnya, menurut Brigjen Pol (Purn) DR Parasian Simanungkalit, pengguna narkoba tidak seharusnya dipenjarakan, tapi sebaiknya cukup direhabilitasi. 

Selain dapat menurunkan jumlah penghuni rutan dan lapas yang mayoritas sudah kelebihan kapasitas, rehabilitasi juga dapat mencegah peredaran narkoba di dalam penjara.

“Mengapa pengguna narkoba dipenjarakan? Inilah kelirunya penegak hukum kita, baik BNN dan POLRI serta Jaksa atau pun Hakim. Sejatinya, pengguna narkoba ditempatkan dan menjalani hukumannya dengan cara direhabilitasi untuk pemulihan. Karena dalam UU Narkotika memberi arah dan petunjuk bahwa pengguna narkoba untuk diri sendiri dapat ditempatkan direhabilitasi,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Rabu (12/2/2020) malam.

Sesuai UU Narkotika nomor 35 tahun 2009, pemerintah telah memberikan kesempatan kepada para korban pengguna narkoba bukan pengedar. Pengguna narkoba tidak akan diproses hukum apabila mau melaporkan diri ke IPWL yaitu Institusi Penerima Wajib Lapor sesuai dengan PP nomor 25 Tahun 2011.

Dalam pasal 127 juga telah diatur agar orang yang menggunakan narkoba untuk diri sendiri, maka hakim dapat merekomendasikan di tempat rehabilitasi. Tempat rehabilitasi di sini juga adalah IPWL atau rumah sakit dan tempat rehabilitasi yang ditunjuk pemerintah.

Disamping itu semua pengguna narkoba harus sadar agar melaporkan diri ke tempat IPWL agar diobati dan dirawat. Sedangkan bagi masyarakat yang mengetahui ada pengguna narkoba dan atau pengedar narkoba agar melaporkan segera ke Polri atau BNN setempat.

“Kepada Polri dan BNN apabila menerima laporan dari masyarakat jangan masyarakat pelapor diperlakukan seperti tersangka sehingga rakyat takut menjadi pelapor,” ucapnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Kepala Bidang Humas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kabid Humas Ditjenpas), Rika Aprianti menjelaskan penyebab kericuhan yang terjadi di Rutan Kelas 2B Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Ia mengatakan, keributan dan pembakaran terjadi karena adanya razia narkoba di dalam rutan sehingga membuat para tahanan tidak berkenan. 

“Pemantik kejadian lantaran ada oknum WBP tidak terima atas upaya pemberantasan narkoba di dalam rutan yang dilakukan oleh petugas Rutan Kabanjahe,” ujar Rika Aprianti di Jakarta, Rabu (12/2/2020).

Sebelum kerusuhan terjadi, petugas rutan sejak Rabu, (8/1/2020) sudah menggelar penggeledahan kamar hunian para tahanan. Dari hasil penggeledahan ditemukan narkoba jenis sabu-sabu seberat 30 gram milik empat orang tahanan yang kemudian ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Polres Tanah Karo.

“Kepala Rutan Kabanjahe hampir setiap hari melakukan penggeledahan kamar hunian tahanan untuk mencegah peredaran narkoba di dalam rutan,” kata Rika Aprianti.

Selanjutnya, pada Selasa (11/2/2020), empat orang tahanan yang ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Tanah karo itu, dikembalikan ke Rutan Kelas IIB Kabanjahe. Setelah dipulangkan, mereka justru melakukan provokasi terhadap tahanan lainnya agar menentang penggeledahan yang dilakukan petugas rutan bersama Kepala Rutan Kelas IIB Kabanjahe.

Puncaknya, pada Rabu (12/2/2020), sekitar pukul 12.00 WIB, para tahanan di Rutan Kelas 2B Kabanjahe terprovokasi melakukan pemberontakan terhadap petugas. Mereka berteriak-teriak dari dalam blok kamar hunian. Petugas Rutan Kabanjahe yang berada di lokasi mencoba menenangkan.

“Namun, para tahanan itu justru menyerang petugas. Kericuhan pun tak terelakkan. Para tahanan kemudian bergerak ke depan menuju arah gedung perkantoran dan membakar gedung Rutan Kelas IIB Kabanjahe,” tuturnya.

Rika Aprianti mengatakan saat ini situasi di Rutan Kabanjahe telah berangsur kondusif setelah petugas gabungan dari unsur TNI batalyon 125 Simbisa, Polres Tanah Karo, dan petugas Rutan Kabanjahe mengamankan lokasi kejadian. Petugas gabungan itu juga telah mengevakuasi para tahanan yang terjebak di dalam rutan saat kericuhan terjadi.

“Selanjutnya para tahanan dievakuasi ke Polres Tanah Karo,” ucapnya.

Akibat peristiwa kericuhan tersebut sejumlah ruangan di dalam rutan hangus terbakar, diantaranya ruang pelayanan tahanan dan ruang staf pengamanan. Rika menambahkan, selain kebakaran sudah berhasil dipadamkan dan tahanan sudah dievakuasi ke Polres Tanah Karo. Insiden kerusuhan dan pembakaran di Rutan Kabanjahe tidak menelan korban jiwa maupun korban luka.