Pelanggaran HAM Berat Paniai. (ist)

THREECHANNEL.CO – Human Rights Working Group (HRWG) mengapresiasi kerja Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang telah menetapkan Peristiwa Paniai pada 7-8 Desember 2014 sebagai pelanggaran HAM berat. 

Hal tersebut ditetapkan dalam Sidang Paripurna Khusus Komnas HAM pada 3 Februari 2020 dan diumumkan kepada publik pada Sabtu 15 Februari 2020. Komnas HAM juga telah menyerahkan berkas penyelidikan Peristiwa Paniai kepada Kejaksaan Agung pada 11 Februari 2020 yang lalu. 

Dalam penyelidikannya, Komnas HAM menemukan adanya tindakan pembunuhan yang dan tindakan penganiayaan yang sistematis atau meluas dan ditujukan kepada masyarakat sipil dalam kerangka kejahatan kemanusiaan. Hal itu memenuhi prasyarat utama pelanggaran HAM berat.

“Dengan ini, Human Rights Working Group (HRWG) menyatakan negara dalam hal ini Kejaksaan Agung harus menindaklanjuti penetapan ini  secara serius. Terlebih, Komnas HAM juga telah menetapkan aktor-aktor yang harus bertanggungjawab dalam perisiwa yang menewaskan 4 orang dan menyebabkan 21 orang lainnya luka-luka akibat penganiayaan,” ujar Muhammad Hafiz, Direktur Eksekutif HRWG, Senin (17/2/2020).

“Aktor-aktor tersebut adalah para anggota TNI yang pada medio peristiwa tersebut bertugas di dalam struktur komando Kodam XVII/Cenderawasih sampai yang berada dalam struktur komando lapangan di Enarotali, Paniai,” imbuhnya.

HRWG juga berharap penetapan ini dapat  menjadi titik awal dari penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM berat lainnya yang selama ini selalu problematis. Apalagi, dengan fakta bahwa pelanggaran-pelanggaran HAM berat yang selama ini penuntasannya mangkrak dan pernyataan-pernyataan dari pejabat negara yang mencederai rasa keadilan. 

Tentunya hal ini kontradiktif dengan janji-janji politik Presiden Jokowi yang sedari awal menyebut ingin menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi.

“Oleh sebab itu, HRWG menilai Presiden Jokowi juga perlu mengeluarkan sikap dan pernyataan yang tegas untuk mengawal penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM yag terjadi di masa lalu serta pelanggaran HAM yang baru agar janji-janjinya terkait HAM tak semata-mata menjadi komoditas politik belaka,” tutur Daniel Awigra, Deputi Direktur HRWG.

Pada akhinya, penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM bukan hanya kebutuhan korban, tetapi juga kebutuhan bangsa dan negara atas kepastian bahwa kasus-kasus serupa tak akan lagi memakan korban lainnya.