Seorang Dokter bernama Li Wenliang sedang menjadi sorotan warganet. Pasalnya Dokter Li Wenliang dikabarkan sebagai sosok pahlawan di China karena menjadi salah satu sosok pertama yang menguak penyeberan Virus Corona di Wuhan. Namun, peringatan dr. Li Wenliang enggan dihiraukan aparat China malah ia dituding hanya membuat gaduh.

Li dituduh menyebarkan isu oleh polisi Wuhan. Dia adalah salah satu dari beberapa petugas medis yang menjadi sasaran polisi karena berusaha untuk mengungkap virus mematikan ini di pekan-pekan awal sebelum terjadinya wabah.

Tanggal 3 Januari 2020, Li dipanggil ke kantor polisi setempat dan ditegur karena menyebarkan desas-desus yang sangat mengganggu ketertiban sosial atas pesan yang dia kirimkan dalam grup obrolan.

Pada 10 Januari, setelah tanpa sadar merawat pasien dengan virus corona di Wuhan, Li mulai batuk dan demam pada hari berikutnya.

Li kemudian dirawat di rumah sakit pada 12 Januari. Pada hari-hari berikutnya, kondisi Li semakin memburuk. Saking parahnya Li dirawat di unit perawatan intensif, dan diberi dukungan oksigen.

Pada 1 Februari, Li dinyatakan positif mengidap virus corona. Diagnosisnya telah memicu kemarahan di seluruh China, di mana serangan balik terhadap upaya negara menutupi penyakit tersebut dan penundaan dalam memperingatkan lebih awal kepada publik mengenai virus mematikan itu.

Li mengatakan bakal ikut berjuang membantu warga yang terinfeksi virus corona untuk sembuh. “ketika virus korona terus menyebar, saya tidak ingin pergi. Saya akan bekerja di garis depan ketika saya pulih,” ujar Li.

Namun naas. Kabar wafat dr. Li Wenliang sebab ikut terinfeksi Virus Corona Wuhan pada Jumat pagi (7/2/2020), waktu setempat.

Wafatnya dr. Li Wenliang di usianya yang 34 tahun, mengundang simpatik warganet China.  Disamping itu warganet menduga bahwa kematian sang dokter ditutupi oleh pemerintah Tiongkok. Alhasil, Li Wenliang malah “meninggal dua kali”. 

Dirangkum CNN, Jumat (7/2/2020), kabar meninggalnya Li Wenliang sudah disebar beberapa media China seperti People’s Daily dan Global Times pada Kamis malam kemarin. 

Dua media pro-pemerintah China itu menyebut Li Wenliang sebagai seorang whistleblower yang mencoba memperingatkan penyebaran Virus Corona. 

“(Dokter Li) wafat pada Kamis malam akibat infeksi Virus Corona, hal itu memicu duka cita di seluruh negeri,” ujar People’s Daily via Twitter. Setelah itu, WHO pun ikut memberikan ucapan duka cita. 

Mendadak, media-media itu menghapus twit tersebut tanpa penjelasan. Global Times menyebut jantung dr. Li berhenti berdetak pada Kamis pukul 21.30 dan pihak rumah sakit masih berupaya menyelematkannya.

Akhirnya, media China kembali mengabarkan kematian dr. Li pada Jumat pagi pukul 02.58 waktu setempat. Warganet China pun sudah keburu marah di media sosial karena dugaan ada penyensoran.

Seorang warganet menuding pemerintah China berusaha menunda pengumuman kematian Li Wenliang ketika masyarakat telah tidur.

“Saya sudah tahu kamu pasti memposting ini di tengah malam,” tulis seorang pengguna media sosial seperti dikutip CNN. “Kamu pikir kita semua sudah tidur? Tidak. Kami belum.”

“Seorang dokter sampai harus meninggal dua kali,” ujar seorang pengguna medsos lain.Itu adalah humiliasi nasional,” lanjutnya.