THREECHANNEL.CO – Habib Muhammad Hanif Al-Athos merespon dengan tegas terkait statment Yudian Wahyudi yang dianggap kontroversial. Seperti dikutip dari salah satu pernyataannya kepada media daring nasional, Yudian mengatakan, musuh terbesar Pancasila adalah agama, bukan kesukuan. Pernyataan itu terkait dengan adanya kelompok-kelompok tertentu yang mereduksi agama sesuai dengan kepetingannya sendiri dan bertentangan dengan Pancasila.

“kita dibikin cukup kaget dengan satu pernyataan yang mungkin orang sebenernya nggak layak bicara dalam bidang itu tapi dianggap pimpinan dalam bidang tersebut. Kalo kita lihat dari pernyataannya rasa-rasanya nggak pantes dia bicara dalam bidang tersebut. Yaitu, Prof. Dr. Yudian Wahyudi, MA., Phd. Mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga, yang merupakan kepala Badan Bidang Ideologi Pancasila (BPIP)” Ujar Habib Hanif dalam kajian mingguan di Masjid Al-Ishlah, Petamburan, Jakarta Pusat, pada (13/2/2020).

Lanjut Habib Hanif, “Ini menurut saya pernyataan bahaya sekali. Kalo yang mengatakan ini seorang mahasiswa yang enggak punya pengaruh mungkin omongan ini ngga usah digubris. Kalo yang mengatakan ini anak kecil, mungkin omongan ini gausah kita pedulikan. Tapi yang mengatakan, seorang kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila BPIP, yang ditunjuk langsung oleh presiden. Innalillahi wa nnailaihi roji’un!” Jelasnya.

Pernyataan demikian menjadi sangat kontras dan bertentangan dengan sejarah, sila-sila, dan spirit yang ada di Pancasila itu sendiri.

Kemudian Habib Hanif menjabarkan secara ringkas sejarah tentang lahirnya pancasila yang ia kutip dari tesis S2 karya Habib Muhammad Riziek Shihab.

Dilihat dari sejarahnya saja pancasila itu sudah sangat syarat dengan nilai-nilai agama. Bagaimana mungkin pancasila mau dikatakan sebagai musuh agama ?

Bagaimana sejarah Pancasila dimulai dari sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 29 Mei – 1 Juni 1945. Pada saat itu, ada 3 rumusan Pancasila, yang pertama Pancasila Muhammad Yamin, yang kedua Pancasila Soepomo, dan yang ketiga Pancasila Soekarno.

“Hal ini sering dijelaskan oleh Imam Besar, karena saya ambil dari slide tesis S2 beliau yang sudah dipertanggungjawabkan secara ilmiah dengan refensi-referensi yang otentik.” Jelas Habib Hanif.

Muhammad Yamin pancasilanya beda dengan sekarang, Muhammad Yamin menyebutnya 5 dasar negara: prikebangsaan, prikemanusiaan, priketuhanan, prikerakyatan, dan kesejahteraan rakyat.

Kemudian Pancasila yang dirancang Soepomo itu disebut Pancadharma: Persatuan, kekeluargaan, keimbangan lahir dan batin, musyawarah keadilan rakyat.

Kemudian Pancasila Soekarno berisikan butir-butirnya tentang: Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau prikemanusiaan, mufakat demokrasi, kesejahteraan sosial, ketuhanan.

“Saya tanya, isi sama susunannya secara utuh sama apa beda dengan sekarang ?” tanya Habib Hanif kepada Jama’ah kajian.

Namun, ketiga rancangan pancasila ini, belum diputuskan oleh BPUPKI dari tanggal 29 Mei – 1 Juni 1945.

Kemudian Habib Hanif melanjutkan penyampaiannya dengan mengutip dari pidato Soepomo. Dalam pidato Soepomo dikatakan, memang di sini terlihat ada dua paham. Pertama paham dari kalangan agama yang menganjurkan supaya Indonesia didirikan sebagai negara Islam. Kemudian anjuran lagi dari kalangan nasionalis, sebagaimana telah dianjurkan oleh Tuan Muhammad Hatta ialah negara persatuan nasional yang memisahkan urusan negara dan urusan Islam dengan lain perkataan “bukan negara Islam”.

Sehingga akhirnya pada saat itu dibentuklah Panitia Sembilan, yang terdiri dari kalangan Islamis dan kalangan Nasionalis. Dari kalangan Islam di situ terdapat nama-nama sebagai berikut, K.H Wahid Hasym, K.H Abdul Qohar Mudzakir, K.H Agus Salim, Abi Kusno Cokro Sujoso, dan dari kalangan nasionalis, ada Soekarno, Muh. Hatta, M. Yamin, Ahmad Subardjo, dan AA Maramis. Setelah mereka (BPUPKI) menggodok panitia sembilan ini, maka lahirnya Piagam Jakarta 22 Juni 1945.

Kemudian Habib Hanif melanjutkan dengan menyimpulkan penjelasan singkat sejarah Pancasila dan mengaitkan pernyataan Yudian Wahyudi yang dianggap bahaya tersebut.

“Dari sejarah itu saja kita bisa paham. Bagaimana mungkin Pancasila mau dipisahkan dengan agama ? sedangkan perumus Pancasila itu diantaranya terdiri dari para ulama dan juga para ulama saat itu memperjuangkan syariat islam” Tegas Habib Hanif Al-Athos.

Artinya, kenapa akhirnya bisa ketemunya ke Pancasila yang dijiwai Piagam Jakarta. Karena ini titik temu, supaya di negeri ini walaupun bukan negara islam secara eksplisit, tapi tetep didasarkan dengan spirit islam, didasarkan dengan spirit agama, oleh karenanya, Pancasila tidak bisa dipisahkan dengan nilai-nilai agama.

“Dari sila pertama yang paling atas, yang paling menonjol yakni, Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya peraturan apapun, undang-undang apapun, Perda manapun, kesemuanya itu tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa.” Pungkas Habib Hanif. (Ghus)