Pangeran Raja Adipati (PRA) Barik Barliyan Suryowiyoto sebagai Raja dari Keraton Djipang, Blora, Jawa Tengah. (ist)

THREECHANNEL.CO – Pangeran Raja Adipati (PRA) Barik Barliyan Suryowiyoto sebagai Raja dari Keraton Djipang, Blora, Jawa Tengah, mengatakan bahwa Keraton Djipang tidak bisa disamakan dengan Keraton Agung Sejagat di Purworejo yang merupakan keraton dengan raja abal-abal.

Sebab, Keraton Djipang memiliki landasan sejarah (historical) yang memang sudah ada dalam sejarah nasional, bukan keraton yang baru muncul seperti Keraton Agung Sejagat.

Sekarang, sejarah itu dibangkitkan kembali agar dapat memberikan manfaat. Selain menjaga nilai-nilai tradisi dan memperkenalkan sejarah masa lampau kepada generasi muda, juga untuk menjaga masuknya budaya-budaya luar yang merusak.

“Selain itu, mendorong pemerintah khususnya Kabupaten Blora untuk melakukan revitalisasi, pembangunan kembali replika-replika keraton di tempat aslinya mungkin, dengan kelengkapan kota rajanya. Mungkin mau dijadikan kawasan adat dan diatur UU. Tujuannya destinasi wisata seperti yang dicanangkan Presiden bahwa target mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara,” ujar Pangeran Raja Adipati (PRA) Barik Barliyan Suryowiyoto, Minggu (19/1/2020) malam.

Dirinya juga mendorong masyarakat Blora mengingat budaya-budaya asli yang dimiliki. Berbicara mengenai Kerajaan Djipang dan Keraton Djipang saat ini, bukan tentang kekuasaan, melainkan mengenai budaya.
Apabila itu tercapai, Keraton Djipang menjadi wisata budaya, destinasi wisata, maka akan ada geliat perekonomian, menggerakkan ekonomi kreatif sehingga punya nilai ekonomi yang bisa mensejahterakan masyarakat.

“Betul sementara ini Cepu, Blora kaya akan migas, tapi untuk 30 tahun yang akan datang migas itu akan habis namun budaya bagaikan gunung dalam lautan. Yang terlihat saat ini hanya sedikit, semakin digali budaya itu akan semakin besar, sebagai contoh, Bali misalnya. Bali makmur sejahtera karena menjaga adat, budaya dan sejarah mereka,” tutur Pangeran Raja Adipati (PRA) Barik Barliyan Suryowiyoto.

Ia mengimbau masyarakat Blora khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya untuk mendukung program pariwisata pemerintah. Sebab, tanpa dukungan dari masyarakat, pariwisata tidak akan jalan, wisatawan tidak akan nyaman.

Menurutnya, selama ini siapa yang kenal Keraton Djipang. Bahkan, masyarakat Blora sendiri pun tidak semuanya tahu tentang sejarah Keraton Djipang. Atas dasar itu, Pangeran Raja Adipati (PRA) Barik Barliyan Suryowiyoto berpikir apa yang bisa membangkitkan rasa bangga masyarakat Blora akan daerahnya.

Pada tahun 2016, Keraton Djipang mengadakan gelar budaya, yang mana tujuan utamanya adalah sebuah gerakan moral untuk membangkitkan rasa bangga masyarakat Blora akan keberadaan keratonnya, akan sejarah besar bahwa di Blora dulu ada kerajaan yang bernama Djipang yang rajanya dicintai oleh masyarakatnya, yaitu Arya Penangsang.

Gelar budaya ini rutin dilaksanakan oleh Keraton Djipang. Pada tahun 2017, digelar di anjungan provinsi Jawa Tengah di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Tempat itu merupakan sentral budaya dan anjungan adalah bagian dari badan penghubung yang sengaja dibentuk Pemerintah Provinsi. Bahkan, saat itu Gubernur Jawa Tengah memberikan sambutan tertulis yang dibacakan oleh Kadis.

“Gerakan moral dulu, ketika rasa bangga sudah tercipta baru bicara yang lain. Betul memang secara fisik keraton Djipang itu sudah tidak ada. Tapi buat apa fisik kalau rasa bangga di masyarakat akan keratonnya belum tercipta, belum bangkit, nggak akan terurus nanti. Bicara soal fisik kan bicara soal uang. Jadi gerakan moral menjaga adat istiadat,” kata Pangeran Raja Adipati (PRA) Barik Barliyan Suryowiyoto.

Gerakan moral menjaga adat-istiadat dan budaya Keraton Djipang legalitasnya telah diakui melalui SK yang diterbitkan oleh Kemenkumham kepada Yayasan Keraton Djipang. Namun, sesungguhnya ia tidak sepakat kalau Keraton Djipang berada di bawah yayasan tersebut karena yang melindungi keraton itu adalah sejarah.

“Jadi legalitas untuk bergerak kita adalah yayasan dengan nama Yayasan Keraton Djipang di Cepu. Untuk kegiatan, karena masing-masing keraton itu punya tempat bernaung maka kita mendaftar di forum silaturrahmi Keraton Nusantara (FSKN) yang ketuanya saat ini adalah Sultan keraton kasepuhan Cirebon yang mulia Arief Natadiningrat SE,” ucap Pangeran Raja Adipati (PRA) Barik Barliyan Suryowiyoto.

Berbicara soal keraton, generasi muda sekarang hanya terbayang Jogja dan Solo, Pakualaman dan Mangkunegara. Padahal di Indonesia ini terdapat banyak keraton. Dengan adanya FSKN, sekarang generasi muda itu mulai tahu ternyata ada banyak keraton di Indonesia.

“Saya ibarat pemicu api, saya hanya pemantik, ketika apinya berkobar seluruhnya saya serahkan kepada Pemda makanya setiap gerakan saya selalu koordinasi dengan Pemda setempat. Bukan kita melakukan aksi itu diam-diam, ijin komplit bahkan di antara tamu ada utusan kementerian pariwisata dan Kemendagri.”

“Sepenuhnya gerakan ini murni gerakan pelestarian adat dan budaya. Ketika ini berhasil dibangun, itu bukan untuk saya, itu sarana untuk mendatangkan para wisatawan. Bahkan mungkin pusaka-pusaka yang selama ini ada pada trah bisa saja kita buatkan replikanya untuk dipajang di dalam museum Keraton itu,” ujarnya.

Setiap keraton yang bernaung di bawah FSKN memiliki agenda yang sama dengan Keraton Djipang dan tidak jarang membawa puluhan kontingen ke daerah lain. Pangeran Raja Adipati (PRA) Barik Barliyan Suryowiyoto menegaskan semua biaya yang dikeluarkan berasal dari kantong pribadinya.

“Kami tidak pernah minta-minta kepada pemerintah. Apalagi minta-minta kepada masyarakat. Lantas bagaimana dengan anggota? Kami tidak punya anggota karena kami bukan sekte yang mencari anggota minta iuran. Keraton Djipang hanya media tempat berkumpulnya para trah yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan ke luar negeri.”

“Tidak ada klaim-klaim kekuasaan misalkan saya awal-awal saya sudah bilang dengan Sekcam saat itu saya hanya penggerak, misi saya mengingatkan, menggerakkan, makanya saya sebut Keraton Djipang ini sebagai gerakan moral,” katanya.