Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais), Soleman B Ponto saat berbincang di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Sabtu (18/1/2020). (threechannel)

THREECHANNEL.CO – Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais), Soleman B Ponto menilai aparat kepolisian terlalu berlebihan dalam menanggapi fenomena Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire.

Sebelumnya, mantan Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol Anton Charlian mengatakan bahwa kemunculan keduanya sengaja dirancang sedemikian rupa oleh kelompok tertentu untuk memecah-belah bangsa Indonesia. Bahkan, sejumlah pihak menilai adanya keterlibatan asing di balik fenomena Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire.

Terkait hal itu, Soleman B Ponto menanggapinya dengan santai sambil tertawa kecil. Menurutnya, tidak ada yang perlu ditakutkan apalagi disebut-sebut berpotensi makar.

“Jangan terlalu takutlah dengan hal-hal seperti itu. Apakah sudah ada kerusuhan gara-gara itu? Belum ada saya kira. Itu kan katanya, sekarang ada bukti nggak, kita jangan bermain-main dengan katanya, tapi faktanya ada atau tidak. Silahkan aja, buktikan kalau dia bisa mengendalikan dunia. Siapa takut? Jangan belum apa-apa kita sudah larang. Jangan,” ujar Soleman B Ponto, Sabtu (18/1/2020).

“Keterlibatan asing atau dana asing di balik itu? Sekarang dana kita dari asing juga kok. Asing terlibat di mana-mana termasuk dalam pembangunan. Dana itu dari mana aja. Makanya saya bilang, jangan melihat terlalu jauh hingga muncul ketakutan yang berlebihan,’ imbuhnya.

Ia juga tidak setuju bila Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire disebut sebagai negara di dalam negara (Indonesia). Sebab, untuk mendirikan sebuah negara terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain pemerintahan, wilayah, warga negara dan pengakuan dari negara lain.

“Tidak semudah itu bos mendirikan negara. Dia ada pemerintahan tidak? Wilayah tidak punya, rakyat tidak punya, apalagi pengakuan dari negara lain. Yang ada hanyalah anggota, anggota apa? Anggota organisasi yang namanya itu. Mereka mendaftar. Jangan terlalu jauh ditarik. Nggak ada yang perlu ditakutkan,” tutur Soleman B Ponto.

Sebaliknya, fenomena Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire seharusnya diapresiasi dan dihargai oleh semua pihak. Sebab baginya hal itu merupakan suatu kebanggan terhadap budaya dan masa lalu yang dapat mendongkrak potensi wisata dan menghasilkan pemasukan.

“Itu bagi saya tidak ada salahnya untuk kita apresiasi. Sepanjang mereka bisanya hanya seperti itu, harus kita hargai. Kalau dia nantinya membuat festival yang besar, datang pengunjung, bayar karcis masuk, kan dapat uang. Kalau perlu bikinkan pasar malam atau tampilkan mereka di TMII misalnya. Ini loh kejayaan masa lalu, kenapa tidak? Mari kita saksikan ramai-ramai mereka bisa apa aja, kan begitu,” pungkasnya.

Secara terpisah, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Budi Gunawan (BG) menyebut keberadaan Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire sudah lama terdeteksi. Hanya saja baru viral dan menjadi fenomenal seperti sekarang ini. Beberapa di antaranya terdeteksi memang bagian dari keraton nusantara.

“Kami sudah mendeteksi itu lama, mungkin baru muncul sekarang. Itu semuanya lama. Yang penting ada memang keraton-keraton yang tergabung dalam kerajaan Nusantara. Lain hal kalau ada unsur pidana di dalamnya, di antaranya sekarang yang dikembangkan masalah penipuan dan lain-lain, itu yang ditelusuri,” kata Budi Gunawan di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Sabtu (18/1/2020).

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai kemunculan Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah, jadi hiburan. Kemunculan keraton itu membuat geger dan berujung penetapan tersangka terhadap ‘raja’ dan ‘ratu’ Toto Santoso (42) dan Fanni Aminadia (41).

“Itu hiburanlah,” ucap Presiden Jokowi sambil tertawa saat ditanya oleh wartawan di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (17/1/2020).